Monthly Archive for June, 2008

A Day in The Life

I read the news today oh, boy
About a lucky man who made the grade
And though the news was rather sad
Well, I just had to laugh
I saw the photograph
He blew his mind out in a car
He didn’t notice that the lights had changed
A crowd of people stood and stared
They’d seen his face before
Nobody was really sure if he was from the House of Lords

I saw a film today oh, boy
The English army had just won the war
A crowd of people turned away
But I just had to look
Having read the book
I love to turn you on.

Woke up, got out of bed
dragged a comb across my head
Found my way downstairs and drank a cup
and looking up, I noticed I was late
Found my coat and grabbed my hat
Made the bus in seconds flat
Found my way upstairs and had a smoke
Somebody spoke and I went into a dream
Ah

I read the news today oh, boy
Four thousand holes in Blackburn, Lancashire
And though the holes were rather small
They had to count them all
Now they know how many holes it takes to fill the Albert Hall
I’d love to turn you on

Jakatra… Jakatra

Ndorokakung membuat kartupos Jakarta, pengennya sih ikut nunggangin, tapi kayanya malah ketelan Akismet di sana. Jadi di sini aja :|

Continue reading ‘Jakatra… Jakatra’

BBM Undercover

Mungkin udah telat, tapi saya melihat ada beberapa isu yang luput dari pemburu berita kita terkait peristiwa-peristiwa seputar kenaikan BBM beberapa minggu lalu.

Sumber? Anggaplah seperti yang dilakukan Moammar Emka, menelusuri langsung dari lapangan. Sebagian lagi dengan membaca berita-berita yang hanya diberi porsi sedikit oleh surat kabar yang bersangkutan (entah untuk maksud apa). Jadi inilah Jakarta, eh, BBM Undercover!

Continue reading ‘BBM Undercover’

Diskusi yang tidak bermanfaat

Hari ini saya melewati toko buku kecil di bagian samping Taman Ismail Marzuki. Di sana dipasang TV 15 inchi, sedang ada debat, tampaknya masalah Ahmadiyah. Saya tertarik karena salah satu pihak memperlihatkan hasil risetnya mengenai Ahmadiyah. Kira-kira bunyinya begini:

“Dari tulisannya Mirza Gulam Ahmad sendiri (sambil mengangkat buku berwarna buru, entah apa judulnya) saya melihat pernyataan bahwa orang Islam yang tidak percaya kepada Masihblablabla (apapunlah namanya, saya tidak ingat), maka ia bukan Islam. Ia tidak akan mendapat rahmat Allah. Ini kan suatu pelecehan yang membuat resah pemeluk Islam.”

Wah, tumben-tumbenan orang Indonesia kalau membahas agama tidak asbun, saya pikir. Tapi reaksi selanjutnya membuat saya kecewa terhadap si pembicara ini karena dia lalu melongok ke belakang, tampaknya barisan pendukungnya, lalu berkata

“Saudara-sadara apa tidak reseh Islam dilecehkan? (sembari mengangkat tangan, berteriak) Allahu akbar! Allahu Akbar!”

Continue reading ‘Diskusi yang tidak bermanfaat’

Good Games, Good History Lessons

Eh di atas itu bahasa inggrisnya udah bener belum yah? hehehe

Jadi ceritanya saya termasuk yang getol maen game-game klasik. Dan yang paling saya suka itu kalau game bisa memasukkan unsur sejarah, sukur-sukur bisa memperluas pengetahuan. Sekalian menyelam, tenggelam, gitu lho :D Buat yang punya anak atau ade, mungkin bisa pertimbangkan beli game-game kaya gini.

Apa aja yang bisa disebut game bagus itu?

1. Civilization

Game strategi yang bener-bener klasik. Intinya belajar sejarah peradaban manusia, mulai dari masa manusia menetap, sampai perang bintang. Di dalamnya kita juga bisa belajar banyak bangunan-bangunan keajaiban dunia. (eh jangan harap ada borobudur yah hehehe)

(-) Terlalu general dan harus konsentrasi. Mungkin agak adiktif

Continue reading ‘Good Games, Good History Lessons’

Fotografi dan Sikap Tinggi Hati

Saya terlibat percakapan dengan teman beberapa waktu lalu. Intinya begini, ternyata fotografi itu ilmu yang memupuk kesombongan dari dalam diri kita.

Jangan marah dulu, bukan berarti saya jadi anti fotografi. Tapi masalahnya kalau dipikir-pikir banyak sekali faktor yang membuat kita mudah tinggi hati hanya dengan belajar seni yang satu ini. Jauh berbeda dengan lukisan, misalnya, yang membuat kita sering merenung, yang ujung-ujungnya membuat kita makin rendah hati.

Apa saja alasan fotografi memupuk kesombongan diri?

1. Fotografer sebagai status, bukan tanggung jawab

Seandainya ribuan orang dari semua profesi dibariskan, bagaimana menebak siapa yang pekerjaannya fotografer? Gampang, lihat saja yang lehernya dililit kamera SLR. Semudah itu.

Masalahnya, status ini sudah berkembang menjadi sesuatu yang tidak lagi perlu susah payah dicapai (achieved status), tapi sebagai simbol yang dapat dibeli.

Continue reading ‘Fotografi dan Sikap Tinggi Hati’

Obama dan Demokrasi Indonesia

Suka atau tidak, sampai sekarang demokrasi di negara kita masih mengekor kepada barat, terutama Amerika. Dan salah satu ciri khas yang terjadi di banyak negara barat adalah diskriminasi terselubung yang mengikuti setiap pemilu.

Teman saya yang kuliah di FISIP pernah bilang, syarat tak tertulis menjadi Presiden Amerika adalah Laki-Laki, Amerika Asli, dan Protestan. Dan memang begitulah adanya. Amerika boleh saja berkoar-koar sebagai negara paling demokratis dan polisi HAM dunia, tapi di antara negara barat lainnya, ia termasuk yang terlambat menghapus perbudakan. Bahkan sistemnya juga pernah membatasi suara dalam pemerintahan hanya untuk kalangan kaya. Ku Klux Klan yang lebih parah dari neo-nazi juga pernah besar di negara ini.

Sejarah tidak bisa dibohongi.

Continue reading ‘Obama dan Demokrasi Indonesia’

Gambar Rusak dan Pecah karena Esia

Beberapa hari ini saya kebingungan gara-gara gambar di browser saya selalu kelihatan pecah dan rusak. Jelas mengganggu karena bagi saya internet sarana vital untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan pekerjaan lain. Saya harus mengupload dan download file-file gambar dengan ukuran besar. Bayangkan, gambar yang aslinya 1,8 MB setelah didownload lewat Esia terdistorsi hingga jadi 73 KB saja!

Akhirnya saya mencoba menanyakan ke CS di website myesia.com. Jawabannya sebagai berikut:

Continue reading ‘Gambar Rusak dan Pecah karena Esia’