BBM Undercover

Mungkin udah telat, tapi saya melihat ada beberapa isu yang luput dari pemburu berita kita terkait peristiwa-peristiwa seputar kenaikan BBM beberapa minggu lalu.

Sumber? Anggaplah seperti yang dilakukan Moammar Emka, menelusuri langsung dari lapangan. Sebagian lagi dengan membaca berita-berita yang hanya diberi porsi sedikit oleh surat kabar yang bersangkutan (entah untuk maksud apa). Jadi inilah Jakarta, eh, BBM Undercover!

1. Penimbunan BBM di mana-mana. Beberapa wartawan menulis kecurigaan penimbunan untuk dijual lagi ketika harga BBM naik. Tapi nyatanya ada beberapa penimbun yang tertangkap mengumpulkan BBM jatah rakyat untuk dijual ke….. industri!

catatan: Dalam skenario BBM tidak jadi dinaikkan, ada selisih harga BBM bersubsidi untuk dikonsumsi masyarakat dengan yang harus dibayar industri. Dengan membeli BBM “selundupan”, sebenarnya slogan “rakyat kecil menikmati BBM bersubsidi” menjadi rancu, karena kenyataannya subsidi ini malah dinikmati oleh pengusaha yang membeli BBM “selundupan”. Ke mana rakyat kecil? Antri di pangkalan, dongg…

2. Kenaikan BBM diberitakan akan membuat sektor transportasi terpukul. Saya lalu menanyakan kepada beberapa tukang ojek, supir metromini, supir taksi. Yang saya temui adalah mereka menyatakan bahwa mereka sebenarnya tidak tertarik memprotes kenaikan BBM. Malah mereka mengakui bahwa beberapa orang tetangga yang tidak ada hubungannya dengan kenaikan BBM diberi bayaran 20 hingga 30 ribu untuk ikut protes.

catatan: Kalangan supir telah memahami bahwa beberapa saat setelah harga BBM naik, tarif transportasi akan mengikuti. Beberapa perusahaan taksi malah memberi subsidi sendiri kepada karyawannya agar tidak terkena dampak terlalu besar dalam proses transisi harga BBM.

3. Organda menolak kenaikan tarif, alasannya tidak ingin membebani rakyat kecil. Mereka menuntut beberapa pilihan lain, misalnya harga BBM tidak dinaikkan khusus kendaraan umum. Kenyataan di lapangan berbicara bahwa entah kenaikan tarif secara resmi atau tidak, satu hari sebelum kenaikan BBM pun tarif angkutan umum sudah naik. Jadi alasan “tidak ingin membebani rakyat kecil” patut dipertanyakan.

catatan: Seandainya opsi pembatalan kenaikan harga BBM khusus pelat kuning disetujui pemerintah, sebenarnya pengusaha angkutan umum akan menikmati keuntungan berganda. Selain biaya operasional tidak naik, tarif pun menjadi mahal. Cukup bulus, bukan?

4. Dua media massa yang saya anggap cukup besar, dalam arti dengan skala nasional dan mampu mempengaruhi pendapat massa, bisa menyajikan dua kesimpulan yang berbeda dari sumber data yang nyaris sama. Koran yang satu menyimpulkan bahwa kenaikan BBM perlu dilakukan karena sebenarnya porsi konsumsi BBM sebenarnya lebih besar dinikmati oleh orang berada. Koran satunya lagi tetap kukuh menyatakan bahwa bagaimanapun komposisinya, rakyat kecil tetap akan terkena imbas kenaikan BBM paling besar.

catatan: Ini memperlihatkan bahwa reaksi rakyat sangat dipengaruhi oleh kesimpulan para jurnalis. Entah di sini opini pribadi mereka akan berperan penting atau kemungkinan punya motfi terselubung dalam menulis berita, itu patut dipertanyakan oleh nurani mereka sendiri.

5. BLT selalu dihembuskan oleh media massa anti kenaikan BBM sebagai subsidi yang membuat rakyat manja, membuat rakyat senang menengadahkan tangan. Sementara pencabutan subsidi BBM dianggap akan mematikan ekonomi rakyat.

catatan: Sebenarnya apakah subsidi BBM dan BLT punya perbedaan? Kedua-duanya membuat rakyat manja. Bedanya yang satunya subsidi membabi-buta, sehingga orang kaya pun dibiayai untuk memanjakan diri dengan mobil mewah, sementara BLT dikhususkan bagi rakyat miskin.

Sekali lagi, ini mungkin usang. Tapi kalau mendengar kabar kemarin-kemarin kalau BBM akan terus naik hingga tidak disubsidi lagi Desember nanti, penyelidikan “bawah tanah” ini akan membuka mata kita bagaimana isu BBM lagi-lagi akan banyak ditunggangi.

Sekarang masalah berita mana yang bisa dipercaya, kita bisa memilih dengan lebih cerdas.

0 Responses to “BBM Undercover”


  1. No Comments

Leave a Reply