<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Fotografi dan Sikap Tinggi Hati</title>
	<atom:link href="http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 07:22:29 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
		<item>
		<title>By: hariadhi</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-41</link>
		<dc:creator>hariadhi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 01:36:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-41</guid>
		<description>Wah, halo mas. Iyah, kemarin nanya kertas foto negatif sama developernya juga mahal banget. Udah ga ada yang make, katanya.

Sampe sekarang masih bergantung sama studio foto yang hasil nyetaknya suka amburadul :P</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, halo mas. Iyah, kemarin nanya kertas foto negatif sama developernya juga mahal banget. Udah ga ada yang make, katanya.</p>
<p>Sampe sekarang masih bergantung sama studio foto yang hasil nyetaknya suka amburadul <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ardie</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-39</link>
		<dc:creator>ardie</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 11:47:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-39</guid>
		<description>fotografi ya...
memasuki abad 21 udah kehilangan seni-nya... sekarang berapa banyak sih fotografer (baca : fotografer!) yg masuk kamar gelap... memproses film atau slide, ngulik grain, sandwich dua slide atau lebih, 'memperkosa' enlarger... hehehehehe... jarang sepertinya dan untungnya g masih ngalamin hal-hal begituan... dan g udah kehilangan adrenalin ngeliat foto hasil cetakan yg ditunggu2!... :D
sekarang tinggal fungsi dokumentasinya yg berkembang dengan berbagai variannya seperti foto jurnalistik, foto komersial dsbnya itu... makanya fotografi nggak masuk hobi gue... tapi g sukanya taking images dari pada taking picture... dan kamera digital poket 2.5 giga (thn 2003 udah hot items itu... hehehehe) yg g selalu gue bawa2 itu gunanya ya untuk dokumentasi dan taking images aja... :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>fotografi ya&#8230;<br />
memasuki abad 21 udah kehilangan seni-nya&#8230; sekarang berapa banyak sih fotografer (baca : fotografer!) yg masuk kamar gelap&#8230; memproses film atau slide, ngulik grain, sandwich dua slide atau lebih, &#8216;memperkosa&#8217; enlarger&#8230; hehehehehe&#8230; jarang sepertinya dan untungnya g masih ngalamin hal-hal begituan&#8230; dan g udah kehilangan adrenalin ngeliat foto hasil cetakan yg ditunggu2!&#8230; <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> sekarang tinggal fungsi dokumentasinya yg berkembang dengan berbagai variannya seperti foto jurnalistik, foto komersial dsbnya itu&#8230; makanya fotografi nggak masuk hobi gue&#8230; tapi g sukanya taking images dari pada taking picture&#8230; dan kamera digital poket 2.5 giga (thn 2003 udah hot items itu&#8230; hehehehe) yg g selalu gue bawa2 itu gunanya ya untuk dokumentasi dan taking images aja&#8230; <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: papabonbon</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-33</link>
		<dc:creator>papabonbon</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 06:31:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-33</guid>
		<description>kalau di sby mau belajar motret di mana yah, mas ?  kalau belajar di sekolah fotografi sudah keder duluan nih.  selain keder sama mahalnya, juga keder karena kamera saya bukan dslr.  

hanya pocket digital biasa, tapi bisa disetting manual.  canon powershot A630.  terus terang main fokusnya sangat kurang.  dan ini nggak bisa diapa apain hehehe ...  makanya mau belajar memotret yg baik dan benar dulu, baru kalau ada dana, beli peralatan yang memadai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau di sby mau belajar motret di mana yah, mas ?  kalau belajar di sekolah fotografi sudah keder duluan nih.  selain keder sama mahalnya, juga keder karena kamera saya bukan dslr.  </p>
<p>hanya pocket digital biasa, tapi bisa disetting manual.  canon powershot A630.  terus terang main fokusnya sangat kurang.  dan ini nggak bisa diapa apain hehehe &#8230;  makanya mau belajar memotret yg baik dan benar dulu, baru kalau ada dana, beli peralatan yang memadai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kuya</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-25</link>
		<dc:creator>kuya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 08:23:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-25</guid>
		<description>Iya poin-point di atas memang kerasa banget. Dan saya pikir proses belajar fotografi akan lebih baik jika mengesampingkan poin-poin di atas. Bukankah lebih baik memikirkan ilmunya daripada memikirkan 'perasaan hati'? :) . Coba tanya Aagym...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Iya poin-point di atas memang kerasa banget. Dan saya pikir proses belajar fotografi akan lebih baik jika mengesampingkan poin-poin di atas. Bukankah lebih baik memikirkan ilmunya daripada memikirkan &#8216;perasaan hati&#8217;? <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Coba tanya Aagym&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: angkasa</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-19</link>
		<dc:creator>angkasa</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 07:57:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-19</guid>
		<description>saya sangat setuju dengan mas hariadhi...
saya belajar foto sudah sekitar 7 tahunan walau karya saya biasa saja.. sifat sombong yang melekat pada jiwa fotografer itu entah dari mana asalnya... saya sering membahas bahasan ini di kalangan temen2 foto... mereka tau penyakit ini ada pada mereka...

so... saya simpulkan seperti ini mas hariadhi... menjadi fotografer cara gampang untuk meningkatkan status sebab fotografer dipandang plus plus oleh orang awam... sebab di mempunyai kemampuan untuk memperkenalkan kepada dunia tentang 5W+1H dengan peralatan yang mahal pula... 

sifat show up juga melekat para fotografer... karena kamera bisa di beli orang yang mampu saya... tapi tidak pada fotografer profesional roy genggam yang berangkat dari orang yang tak mampu.

kalo saya sudah hapal mas... kalo tukang foto atau juru foto itu sombong sebenarnya ilmunya masih kelas teri... tapi kebetulan dia orang kaya hehehehe...

hehehe saya sudah lama belajar agak kesombongan itu ndak melekat dalam diri saya... tapi terkadang sombong dan show up saya keluar saat ada berhadapan dengan klien mas... ndak tau itu salah atau benar hihihi. soalnya saya baru dapet 1 klien hehehe...

salam kenal yang mas... artikel ini saya acungi jempol... semoga juru poto atau tukang poto yang sombong itu baca artikel ini...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sangat setuju dengan mas hariadhi&#8230;<br />
saya belajar foto sudah sekitar 7 tahunan walau karya saya biasa saja.. sifat sombong yang melekat pada jiwa fotografer itu entah dari mana asalnya&#8230; saya sering membahas bahasan ini di kalangan temen2 foto&#8230; mereka tau penyakit ini ada pada mereka&#8230;</p>
<p>so&#8230; saya simpulkan seperti ini mas hariadhi&#8230; menjadi fotografer cara gampang untuk meningkatkan status sebab fotografer dipandang plus plus oleh orang awam&#8230; sebab di mempunyai kemampuan untuk memperkenalkan kepada dunia tentang 5W+1H dengan peralatan yang mahal pula&#8230; </p>
<p>sifat show up juga melekat para fotografer&#8230; karena kamera bisa di beli orang yang mampu saya&#8230; tapi tidak pada fotografer profesional roy genggam yang berangkat dari orang yang tak mampu.</p>
<p>kalo saya sudah hapal mas&#8230; kalo tukang foto atau juru foto itu sombong sebenarnya ilmunya masih kelas teri&#8230; tapi kebetulan dia orang kaya hehehehe&#8230;</p>
<p>hehehe saya sudah lama belajar agak kesombongan itu ndak melekat dalam diri saya&#8230; tapi terkadang sombong dan show up saya keluar saat ada berhadapan dengan klien mas&#8230; ndak tau itu salah atau benar hihihi. soalnya saya baru dapet 1 klien hehehe&#8230;</p>
<p>salam kenal yang mas&#8230; artikel ini saya acungi jempol&#8230; semoga juru poto atau tukang poto yang sombong itu baca artikel ini&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: gentole</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-17</link>
		<dc:creator>gentole</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 14:15:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-17</guid>
		<description>walah kok sama yah, saya juga mengalami itu. entah kenapa fotografi membuat orang menjadi "sombong". mungkin karena sebenarnya siapapun bisa pegang kamera dan mengambil gambar. beda sama lukisan, semua orang bisa pegang kuas tapi gak semua orang bisa ngelukis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>walah kok sama yah, saya juga mengalami itu. entah kenapa fotografi membuat orang menjadi &#8220;sombong&#8221;. mungkin karena sebenarnya siapapun bisa pegang kamera dan mengambil gambar. beda sama lukisan, semua orang bisa pegang kuas tapi gak semua orang bisa ngelukis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hariadhi</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-16</link>
		<dc:creator>hariadhi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 09:00:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-16</guid>
		<description>begtitulah, ndoro :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>begtitulah, ndoro <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ndoro kakung</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-13</link>
		<dc:creator>ndoro kakung</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 18:03:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-13</guid>
		<description>intinya: kamera bisa sama, yang membedakan siapa di belakangnya ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>intinya: kamera bisa sama, yang membedakan siapa di belakangnya ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hariadhi</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-11</link>
		<dc:creator>hariadhi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 13:45:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-11</guid>
		<description>Kalau ga setuju ya ga masalah. Soalnya ini cuma renungan setelah beberapa lama belajar fotografi. Bisa aja beda pengalaman lu sama pengalaman gw. :mrgreen:

Contoh orang di sekitar gw yang jadi sombong gara-gara bisa megang kamera itu banyak. ;)

Salam kenal...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ga setuju ya ga masalah. Soalnya ini cuma renungan setelah beberapa lama belajar fotografi. Bisa aja beda pengalaman lu sama pengalaman gw. <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
Contoh orang di sekitar gw yang jadi sombong gara-gara bisa megang kamera itu banyak. <img src='http://hariadhi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
Salam kenal&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: susiloharjo</title>
		<link>http://hariadhi.com/blog/2008/06/fotografi-dan-sikap-tinggi-hati/#comment-10</link>
		<dc:creator>susiloharjo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 03:46:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hariadhi.com/blog/?p=18#comment-10</guid>
		<description>Wow sebuah ungkapan yang luar biasa tadi lagi iseng searching di google apa sih sebenarnya fotografi itu ternyata mampir ke sini, salam kenal mas, aku juga seorang newbie di fotografi mungkin lebih tepatnya seorang junior seperti mas tulis diatas, kita share pendapat yuk boleh khan.

Ketika pertama kali aku tertarik di dunia ini dimulai dari betapa beruntungnya menjadi seorang fotografer bisa melihat hal yang indah dan mengabadikannya, dan sangat beruntungnya karena mendapat momen yang pas, karena ngga setiap saat momen tersebut bisa seperti itu. Dan begitu banyak lagi hal-hal yang indah akan kita temui selama kita hidup dan yang paling asyik adalah berbagi momen tersebut dengan orang lain, bukan sanjungan yang diinginkan tapi betapa senang melihat orang senang.

Kalau dibilang kamera bukan barang murah memang benar tapi saya sangat tidak sepakat ada ungkapan kalau dengan kamera bagus dan mahal maka akan menghasilkan gambar yang bagus pula, semuanya kembali ke jam terbang semakin banyak melihat, merasa, dan berbenturan dengan situasi maka akan semakin terlatih feeling dan sekali lagi gear adalah alat bukan jaminan gambar menjadi bagus.

Peralatan serba otomatis sangat membantu tapi bukan jaminan, terkadang banyak momen yang terlewatkan karena kita bingung mensetting alat dengan banyak otomatisasi pada gear tentu sangat memudahkan kita mengejar momen tersebut.

Memanipulasi gambar menjadi sangat mudah, siapa yang bilang mudah saya aja walaupun sering make software pict editor begitu dihadapkan dengan gambar baru selalu saja bingung mau diapakan nih gambar, pict editor hanya membantu mengurangi hal-hal yang ketika dilapangan tidak kita sadari seperti terlalu gelap, komposisi yang kurang bagus, atau gambar miring karena tergesa-gesa mengejar momen atau keadaan yang tidak memungkinkan dll. Dan dengan adanya Pict editor ini sangat membantu tapi yang menentukan tetap hasil jepretan asli.

It's instant ngga tuh butuh waktu lama mengenal gear kalau pake auto terus sih ngga usah pake DSLR pake kamera HP aja kali, dan semakin lama kita bercengkrama dengan gear kita makin akan semakin terlatih menggunakannya dan menangkap momen2 yang pas.

Senior-junior saya yakin dengan sangat waktu itu benar-benar berpengaruh saya jujur mengaku saya newbie ngga bisa seperti maestro2 fotografi, kejelian meliat suatu obyek ini yang ngga bisa dibayar dengan uang tapi dengan jam terbang dan ini harus selalu dilatih, semakin senior maka semakin banyak berbenturan dengan situasi dan semakin kaya akan ilmu. 

Bergabung dalam suatu komunitas membuat kita sering di kritik inilah yang membuat kita maju karena banyak yang ngasih saran ini-itu yang terkadang tidak kita perhatikan tapi bagi mereka yang matanya sudah terlatih tentu bisa melihat kekurangan dari sebuah gambar.

dan yang terakhir

" Hal inilah yang membuat saya dan teman lalu menyimpulkan bahwa fotografi adalah ilmu yang bisa memupuk kesombongan diri. Karena masalahnya membuat foto yang “bagus” sudah terlalu mudah, sementara masyarakat kita dengan mudah pula terkagum-kagum kepada pekerjaan fotografer. Jadi dengan sedikit effort, bisa menghasilkan kebanggaan diri yang sangat besar." 

Saya ngga sepakat dengan ungkapan diatas kalau anda benar2 seorang fotografer maka anda tidak akan pernah berkata seperti itu karena menjadi seorang fotografer itu susah harus rela berpanas-panasan, mendaki gunug yang tinggi, berbasah-basahan di tengah hujan, berkotor-kotor di semak-semak hanya untuk mengambil sebuah gambar.

"Salam jepret" hanya sebuah pandangan dari seorang newbie yang mencoba mengagumi segala keindahan yang tuhan berikan dan mencoba mengamati dari kedua bola mata saya dan bersyukur betapa banyak nikmat yang diberikan oleh tuhan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wow sebuah ungkapan yang luar biasa tadi lagi iseng searching di google apa sih sebenarnya fotografi itu ternyata mampir ke sini, salam kenal mas, aku juga seorang newbie di fotografi mungkin lebih tepatnya seorang junior seperti mas tulis diatas, kita share pendapat yuk boleh khan.</p>
<p>Ketika pertama kali aku tertarik di dunia ini dimulai dari betapa beruntungnya menjadi seorang fotografer bisa melihat hal yang indah dan mengabadikannya, dan sangat beruntungnya karena mendapat momen yang pas, karena ngga setiap saat momen tersebut bisa seperti itu. Dan begitu banyak lagi hal-hal yang indah akan kita temui selama kita hidup dan yang paling asyik adalah berbagi momen tersebut dengan orang lain, bukan sanjungan yang diinginkan tapi betapa senang melihat orang senang.</p>
<p>Kalau dibilang kamera bukan barang murah memang benar tapi saya sangat tidak sepakat ada ungkapan kalau dengan kamera bagus dan mahal maka akan menghasilkan gambar yang bagus pula, semuanya kembali ke jam terbang semakin banyak melihat, merasa, dan berbenturan dengan situasi maka akan semakin terlatih feeling dan sekali lagi gear adalah alat bukan jaminan gambar menjadi bagus.</p>
<p>Peralatan serba otomatis sangat membantu tapi bukan jaminan, terkadang banyak momen yang terlewatkan karena kita bingung mensetting alat dengan banyak otomatisasi pada gear tentu sangat memudahkan kita mengejar momen tersebut.</p>
<p>Memanipulasi gambar menjadi sangat mudah, siapa yang bilang mudah saya aja walaupun sering make software pict editor begitu dihadapkan dengan gambar baru selalu saja bingung mau diapakan nih gambar, pict editor hanya membantu mengurangi hal-hal yang ketika dilapangan tidak kita sadari seperti terlalu gelap, komposisi yang kurang bagus, atau gambar miring karena tergesa-gesa mengejar momen atau keadaan yang tidak memungkinkan dll. Dan dengan adanya Pict editor ini sangat membantu tapi yang menentukan tetap hasil jepretan asli.</p>
<p>It&#8217;s instant ngga tuh butuh waktu lama mengenal gear kalau pake auto terus sih ngga usah pake DSLR pake kamera HP aja kali, dan semakin lama kita bercengkrama dengan gear kita makin akan semakin terlatih menggunakannya dan menangkap momen2 yang pas.</p>
<p>Senior-junior saya yakin dengan sangat waktu itu benar-benar berpengaruh saya jujur mengaku saya newbie ngga bisa seperti maestro2 fotografi, kejelian meliat suatu obyek ini yang ngga bisa dibayar dengan uang tapi dengan jam terbang dan ini harus selalu dilatih, semakin senior maka semakin banyak berbenturan dengan situasi dan semakin kaya akan ilmu. </p>
<p>Bergabung dalam suatu komunitas membuat kita sering di kritik inilah yang membuat kita maju karena banyak yang ngasih saran ini-itu yang terkadang tidak kita perhatikan tapi bagi mereka yang matanya sudah terlatih tentu bisa melihat kekurangan dari sebuah gambar.</p>
<p>dan yang terakhir</p>
<p>&#8221; Hal inilah yang membuat saya dan teman lalu menyimpulkan bahwa fotografi adalah ilmu yang bisa memupuk kesombongan diri. Karena masalahnya membuat foto yang “bagus” sudah terlalu mudah, sementara masyarakat kita dengan mudah pula terkagum-kagum kepada pekerjaan fotografer. Jadi dengan sedikit effort, bisa menghasilkan kebanggaan diri yang sangat besar.&#8221; </p>
<p>Saya ngga sepakat dengan ungkapan diatas kalau anda benar2 seorang fotografer maka anda tidak akan pernah berkata seperti itu karena menjadi seorang fotografer itu susah harus rela berpanas-panasan, mendaki gunug yang tinggi, berbasah-basahan di tengah hujan, berkotor-kotor di semak-semak hanya untuk mengambil sebuah gambar.</p>
<p>&#8220;Salam jepret&#8221; hanya sebuah pandangan dari seorang newbie yang mencoba mengagumi segala keindahan yang tuhan berikan dan mencoba mengamati dari kedua bola mata saya dan bersyukur betapa banyak nikmat yang diberikan oleh tuhan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
