Fotografi dan Sikap Tinggi Hati

Saya terlibat percakapan dengan teman beberapa waktu lalu. Intinya begini, ternyata fotografi itu ilmu yang memupuk kesombongan dari dalam diri kita.

Jangan marah dulu, bukan berarti saya jadi anti fotografi. Tapi masalahnya kalau dipikir-pikir banyak sekali faktor yang membuat kita mudah tinggi hati hanya dengan belajar seni yang satu ini. Jauh berbeda dengan lukisan, misalnya, yang membuat kita sering merenung, yang ujung-ujungnya membuat kita makin rendah hati.

Apa saja alasan fotografi memupuk kesombongan diri?

1. Fotografer sebagai status, bukan tanggung jawab

Seandainya ribuan orang dari semua profesi dibariskan, bagaimana menebak siapa yang pekerjaannya fotografer? Gampang, lihat saja yang lehernya dililit kamera SLR. Semudah itu.

Masalahnya, status ini sudah berkembang menjadi sesuatu yang tidak lagi perlu susah payah dicapai (achieved status), tapi sebagai simbol yang dapat dibeli.

2. Kamera bukan barang murah

Ya, fotografi melibatkan nafsu untuk membeli gadget lebih banyak dan lebih banyak lagi. Seperti juga komputer dan handphone, setiap tahun akan ada saja keluaran terbaru yang pastinya lebih mahal. Hal ini belum mempertimbangkan lensa, tripod, flash, hingga peralatan studio. Seberapapun uangnya, akan ada peralatan fotografi yang bisa dibeli.

Kalau mau jujur, yang belakangan terjadi saat hunting bersama di lapangan adalah saling membandingkan dan iri-irian masalah peralatan, Padahal inti utama fotografi adalah menangkap gambar yang baik sesuai pesan yang ingin disampaikan, bukannya pamer equipment.

3. Peralatan serba otomatis

Ada semacam gurauan di kalangan fotografer: Sebenarnya yang disebut dengan kamera profesional itu bukannya kamera untuk kalangan profesional, tapi kamera yang mampu mengubah seorang pemula jadi profesional. Yap, kemudahan membuat siapa saja bisa memotret dengan kualitas tinggi tanpa perlu bersusah payah.

Efek buruknya adalah orang dengan mudah merasa dirinya sudah menguasai ilmu fotografi. Setelan kamera semuanya di automatis, baru tiga kali pertemuan kursus fotografi, tapi lagaknya seperti yang paling pintar. Dan lebih lucu lagi, tidak sulit mencari studio yang mau memberikan kursus fotografi mulai dari sama sekali tidak pernah memegang kamera hingga masuk studio hanya dalam 3 minggu.

4. Manipulasi gambar semakin mudah

Saya tidak ingin menyalahkan Photoshop, karena bagaimanapun retouch sudah dilakukan jauh sebelum orang mengenal komputer. Saya juga sering melakukan retouch jika keadaan tidak memungkinkan foto dibuat sempurna.

Yang menyedihkan adalah proses retouch semakin lama semakin mudah. Kalau dulu seorang retoucher harus bersusah payah memainkan enlarger dan lampu di ruang gelap, sekarang cukup duduk santai di depan komputer dengan AC berhembus. Dulu retoucher bisa dibayar mahal, sekarang ada yang berani menghargai hanya 5.000 per foto, bayangkan!

Akibatnya inti kegiatan mendapatkan keindahan suatu foto sudah berpindah dari menggunakan kamera sebaik-baiknya, menjadi memanfaatkan software semaksimal mungkin. Penggunaan kamera hanya dihargai sebagai alat untuk menangkap momen, tidak lebih.

5. It’s Instant!

Saya tidak ingin munafik, saya juga pakai kamera digital dalam beberapa kesempatan. Tapi tombol erase di kamera digital mau tak mau harus diakui sebagai sesuatu yang merusak pembelajaran.

Memang akan sangat praktis kalau gambar yang jelek bisa dihapus segera agar tidak memenuhi memory card, tapi masalahnya dengan sistem seperti ini kita menujadi sangat manja. Kita tidak lagi bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang terjadi di tiap foto. Padahal inti utama ilmu fotografi adalah learning by doing. Kesalahan seharusnya dijadikan alat utama pembelajaran, bukannya kumpulan teori yang harus dihapal.

6. Hierarki Senior-Junior

Ada semacam anomali senioritas dalam komunitas fotografi. Biasanya ada beberapa orang yang dianggap sudah lama dan paling tahu masalah fotografi, lalu dipuja-puja sebagai sesepuh fotografi. Seperti apapun karyanya, bahkan yang paling amburadul sekalipun, dianggap karya-karya dewa. Kalau perlu dengan berkelit sebagai foto kontemporer. Sebaliknya orang-orang “baru” yang kurang dikenal (walaupun sudah fasih fotografi) masih sering direndahkan.

Lebih aneh lagi, hal ini membuat fotografer-fotografer cenderung terkotak-kotak dalam kelompok yang tidak jelas tujuannya. Ini tidak mengherankan, karena untuk mendapatkan status sebagai fotografer handal, sebenarnya yang dibutuhkan hanya pengakuan dari fotografer lain, bukan sebuah karya yang baik. Sebaliknya lagi, fotografer yang berusaha independen malah sering dilecehkan hanya karena tidak memiliki komunitas.

Efek keseluruhan dari keenam faktor ini adalah banyaknya pembelajar fotografi yang cepat merasa bisa. Karena kenyataannya fotografi sekarang sudah terlalu mudah. Cukup modal 35 jutaan untuk membeli kamera profesional lengkap dengan deretan lensanya dan ambil kursus 3 mingguan dari fotografer dan viola, anda adalah seorang fotografer!

Akibatnya foto-foto yang dihasilkan menjadi mentah. Tidak ada lagi pertimbangan menggunakan arah cahaya dengan baik, pengolahan komposisi, dan sebagainya.

Hal inilah yang membuat saya dan teman lalu menyimpulkan bahwa fotografi adalah ilmu yang bisa memupuk kesombongan diri. Karena masalahnya membuat foto yang “bagus” sudah terlalu mudah, sementara masyarakat kita dengan mudah pula terkagum-kagum kepada pekerjaan fotografer. Jadi dengan sedikit effort, bisa menghasilkan kebanggaan diri yang sangat besar.

Karena itu saya pikir seharusnya ada hal baru yang perlu diajarkan sebagai ilmu paling dasar fotografi. Ilmu ini harus diajarkan pada pertemuan pertama, mendahului pengetahuan tentang exposure, diafragma, speed, ASA/ISO, dan sebagainya. Ilmu itu bicara tentang kerendahan hati.

Padi makin berisi semakin merunduk, yes?

10 Responses to “Fotografi dan Sikap Tinggi Hati”


  1. 1 susiloharjo

    Wow sebuah ungkapan yang luar biasa tadi lagi iseng searching di google apa sih sebenarnya fotografi itu ternyata mampir ke sini, salam kenal mas, aku juga seorang newbie di fotografi mungkin lebih tepatnya seorang junior seperti mas tulis diatas, kita share pendapat yuk boleh khan.

    Ketika pertama kali aku tertarik di dunia ini dimulai dari betapa beruntungnya menjadi seorang fotografer bisa melihat hal yang indah dan mengabadikannya, dan sangat beruntungnya karena mendapat momen yang pas, karena ngga setiap saat momen tersebut bisa seperti itu. Dan begitu banyak lagi hal-hal yang indah akan kita temui selama kita hidup dan yang paling asyik adalah berbagi momen tersebut dengan orang lain, bukan sanjungan yang diinginkan tapi betapa senang melihat orang senang.

    Kalau dibilang kamera bukan barang murah memang benar tapi saya sangat tidak sepakat ada ungkapan kalau dengan kamera bagus dan mahal maka akan menghasilkan gambar yang bagus pula, semuanya kembali ke jam terbang semakin banyak melihat, merasa, dan berbenturan dengan situasi maka akan semakin terlatih feeling dan sekali lagi gear adalah alat bukan jaminan gambar menjadi bagus.

    Peralatan serba otomatis sangat membantu tapi bukan jaminan, terkadang banyak momen yang terlewatkan karena kita bingung mensetting alat dengan banyak otomatisasi pada gear tentu sangat memudahkan kita mengejar momen tersebut.

    Memanipulasi gambar menjadi sangat mudah, siapa yang bilang mudah saya aja walaupun sering make software pict editor begitu dihadapkan dengan gambar baru selalu saja bingung mau diapakan nih gambar, pict editor hanya membantu mengurangi hal-hal yang ketika dilapangan tidak kita sadari seperti terlalu gelap, komposisi yang kurang bagus, atau gambar miring karena tergesa-gesa mengejar momen atau keadaan yang tidak memungkinkan dll. Dan dengan adanya Pict editor ini sangat membantu tapi yang menentukan tetap hasil jepretan asli.

    It’s instant ngga tuh butuh waktu lama mengenal gear kalau pake auto terus sih ngga usah pake DSLR pake kamera HP aja kali, dan semakin lama kita bercengkrama dengan gear kita makin akan semakin terlatih menggunakannya dan menangkap momen2 yang pas.

    Senior-junior saya yakin dengan sangat waktu itu benar-benar berpengaruh saya jujur mengaku saya newbie ngga bisa seperti maestro2 fotografi, kejelian meliat suatu obyek ini yang ngga bisa dibayar dengan uang tapi dengan jam terbang dan ini harus selalu dilatih, semakin senior maka semakin banyak berbenturan dengan situasi dan semakin kaya akan ilmu.

    Bergabung dalam suatu komunitas membuat kita sering di kritik inilah yang membuat kita maju karena banyak yang ngasih saran ini-itu yang terkadang tidak kita perhatikan tapi bagi mereka yang matanya sudah terlatih tentu bisa melihat kekurangan dari sebuah gambar.

    dan yang terakhir

    ” Hal inilah yang membuat saya dan teman lalu menyimpulkan bahwa fotografi adalah ilmu yang bisa memupuk kesombongan diri. Karena masalahnya membuat foto yang “bagus” sudah terlalu mudah, sementara masyarakat kita dengan mudah pula terkagum-kagum kepada pekerjaan fotografer. Jadi dengan sedikit effort, bisa menghasilkan kebanggaan diri yang sangat besar.”

    Saya ngga sepakat dengan ungkapan diatas kalau anda benar2 seorang fotografer maka anda tidak akan pernah berkata seperti itu karena menjadi seorang fotografer itu susah harus rela berpanas-panasan, mendaki gunug yang tinggi, berbasah-basahan di tengah hujan, berkotor-kotor di semak-semak hanya untuk mengambil sebuah gambar.

    “Salam jepret” hanya sebuah pandangan dari seorang newbie yang mencoba mengagumi segala keindahan yang tuhan berikan dan mencoba mengamati dari kedua bola mata saya dan bersyukur betapa banyak nikmat yang diberikan oleh tuhan.

  2. 2 hariadhi

    Kalau ga setuju ya ga masalah. Soalnya ini cuma renungan setelah beberapa lama belajar fotografi. Bisa aja beda pengalaman lu sama pengalaman gw. :mrgreen:
    Contoh orang di sekitar gw yang jadi sombong gara-gara bisa megang kamera itu banyak. ;)
    Salam kenal…

  3. 3 ndoro kakung

    intinya: kamera bisa sama, yang membedakan siapa di belakangnya ya?

  4. 4 hariadhi

    begtitulah, ndoro :mrgreen:

  5. 5 gentole

    walah kok sama yah, saya juga mengalami itu. entah kenapa fotografi membuat orang menjadi “sombong”. mungkin karena sebenarnya siapapun bisa pegang kamera dan mengambil gambar. beda sama lukisan, semua orang bisa pegang kuas tapi gak semua orang bisa ngelukis.

  6. 6 angkasa

    saya sangat setuju dengan mas hariadhi…
    saya belajar foto sudah sekitar 7 tahunan walau karya saya biasa saja.. sifat sombong yang melekat pada jiwa fotografer itu entah dari mana asalnya… saya sering membahas bahasan ini di kalangan temen2 foto… mereka tau penyakit ini ada pada mereka…

    so… saya simpulkan seperti ini mas hariadhi… menjadi fotografer cara gampang untuk meningkatkan status sebab fotografer dipandang plus plus oleh orang awam… sebab di mempunyai kemampuan untuk memperkenalkan kepada dunia tentang 5W+1H dengan peralatan yang mahal pula…

    sifat show up juga melekat para fotografer… karena kamera bisa di beli orang yang mampu saya… tapi tidak pada fotografer profesional roy genggam yang berangkat dari orang yang tak mampu.

    kalo saya sudah hapal mas… kalo tukang foto atau juru foto itu sombong sebenarnya ilmunya masih kelas teri… tapi kebetulan dia orang kaya hehehehe…

    hehehe saya sudah lama belajar agak kesombongan itu ndak melekat dalam diri saya… tapi terkadang sombong dan show up saya keluar saat ada berhadapan dengan klien mas… ndak tau itu salah atau benar hihihi. soalnya saya baru dapet 1 klien hehehe…

    salam kenal yang mas… artikel ini saya acungi jempol… semoga juru poto atau tukang poto yang sombong itu baca artikel ini…

  7. 7 kuya

    Iya poin-point di atas memang kerasa banget. Dan saya pikir proses belajar fotografi akan lebih baik jika mengesampingkan poin-poin di atas. Bukankah lebih baik memikirkan ilmunya daripada memikirkan ‘perasaan hati’? :) . Coba tanya Aagym…

  8. 8 papabonbon

    kalau di sby mau belajar motret di mana yah, mas ? kalau belajar di sekolah fotografi sudah keder duluan nih. selain keder sama mahalnya, juga keder karena kamera saya bukan dslr.

    hanya pocket digital biasa, tapi bisa disetting manual. canon powershot A630. terus terang main fokusnya sangat kurang. dan ini nggak bisa diapa apain hehehe … makanya mau belajar memotret yg baik dan benar dulu, baru kalau ada dana, beli peralatan yang memadai.

  9. 9 ardie

    fotografi ya…
    memasuki abad 21 udah kehilangan seni-nya… sekarang berapa banyak sih fotografer (baca : fotografer!) yg masuk kamar gelap… memproses film atau slide, ngulik grain, sandwich dua slide atau lebih, ‘memperkosa’ enlarger… hehehehehe… jarang sepertinya dan untungnya g masih ngalamin hal-hal begituan… dan g udah kehilangan adrenalin ngeliat foto hasil cetakan yg ditunggu2!… :D sekarang tinggal fungsi dokumentasinya yg berkembang dengan berbagai variannya seperti foto jurnalistik, foto komersial dsbnya itu… makanya fotografi nggak masuk hobi gue… tapi g sukanya taking images dari pada taking picture… dan kamera digital poket 2.5 giga (thn 2003 udah hot items itu… hehehehe) yg g selalu gue bawa2 itu gunanya ya untuk dokumentasi dan taking images aja… :D

  10. 10 hariadhi

    Wah, halo mas. Iyah, kemarin nanya kertas foto negatif sama developernya juga mahal banget. Udah ga ada yang make, katanya.

    Sampe sekarang masih bergantung sama studio foto yang hasil nyetaknya suka amburadul :P

Leave a Reply