Peringatan:
Saya akan menulis dengan sangat panjang dan serius. Baca dengan baik-baik setiap poin yang saya sampaikan, lalu bandingkan dengan pengalaman MLM yang sudah anda alami. Saya tidak dibayar oleh siapapun, termasuk saingan MLM anda. Saya menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi saya bertahun-tahun menghadapi member MLM yang begitu gigih mempromosikan produknya, nyaris tanpa etika.
Saya sudah cukup puas diprospek banyak kenalan dan kerabat dari puluhan jenis MLM, tidak usah pakai sebut nama, ya? Tidak ada satupun yang melekat di hati saya. Saya terlalu bodoh dalam melihat peluang? Mungkin, tapi ada alasan yang jauh lebih kuat daripada sekedar masalah mimpi dan harapan untuk punya mobil atau villa mewah.
Apa saja?
1. MLM cenderung merusak hubungan
Salah satu iming-iming yang ditawarkan banyak MLM adalah anda bisa belajar mengembangkan networking sembari menjalankan “bisnis”. Kenyataannya adalah anda tidak akan membangun relasi apapun dengan orang lain jika dalam sehari bertemu anda menghabiskan 4 hingga 5 jam untuk menceramahinya tentang peluang dan motivasi.
Kesalahan terbesar pengikut MLM adalah menganggap orang yang diprospeknya adalah orang dungu yang tidak bisa merasakan dan memikirkan apa-apa. Sebaliknya, yang terjadi adalah niat anda yang sejak awal hanya memikirkan berapa besar komisi yang bisa anda raih dari orang yang diprospek akan dengan mudah terlihat dari cara anda bicara dan gerak-gerik anda.
Coba tanyakan aturan tata krama berbisnis kepada upline anda, pasti yang anda dapatkan cuma setumpuk brosur yang harus dibagikan bulan ini.
2. MLM berasumsi semua anggotanya robot
Berlawanan dengan doktrin bahwa setiap anggota adalah pengusaha ataupun entreprenur, yang terjadi di banyak MLM adalah setiap anggota dibayar dengan perhitungan yang kaku. Anda harus tunduk pada aturan bintang-bintangan untuk mencapai level yang menjanjikan keuntungan. Di luar itu anda tidak bisa mengusahakan hal lain. Anda harus tunduk kepada sistem yang berlaku. Anda dilarang menaikkan harga demi memperbesar keuntungan, anda juga akan dilarang menurunkan harga demi menarik pelanggan. Dalam banyak hal anda bisa dikeluarkan dari kanggotaan kalau “mbalelo” kepada peraturan.
Setahu saya, pengusaha atau entrepreneur adalah orang-orang yang bekerja dengan mengolah resiko. Karena itu dia seharusnya bebas memutuskan apa saja yang menurutnya perlu bagi kelangsungan usaha. Ia bahkan harus memiliki kebebasan untuk mengubah sistem yang menurutnya tidak layak lagi digunakan. Ia tidak pernah tidak patuh kepada aturan, karena ia sendirilah yang menciptakannya. Saat ia harus menurunkan harga, ia memiliki kebebasan untuk itu. Saat ia harus menaikkan harga, ia juga memiliki kebebasan untuk itu.
Coba saya tanya, adakah kebebasan semacam itu di MLM?
3. Anggota MLM diajari untuk menutup mata dari kenyataan
Coba ketik “MLM” di google sekarang. Buka satu per satu blog yang mengkritik keberadaan MLM. Anda tidak akan kesulitan menemui anggota MLM yang kebakaran jenggot karena nama MLM tempatnya disebut-sebut. Perhatikan gaya bicara mereka, sama sekali tidak berusaha mencerna analisa orang yang sudah berusaha berpikir objektif. Yang keluar malah ungkapan khas orang yang baru tercuci otaknya. Doktrin-doktrin tentang mimpi, harapan, investasi, dan testimoni-testimoni yang tak pernah jelas asalnya akan berhamburan.
Saya mengerti, akan banyak yang menceramahi saya dengan falsafah “mari bermimpi”nya Robert T Kiyosaki setelah tulisan ini. Tapi coba buka kembali buku Rich Dad Poor Dad anda yang sudah bulukan itu. Pernahkah RTK menyuruh anda bermimpi tanpa perhitungan? Saya rasa tidak. Robert T Kiyosaki tetap menjelaskan tentang teknik-teknik mengelola keuangan, perhitungan yang matang, dan cara mempertahankan investasi secara konvensional. Dia tetap menceramahi anda tentang pentingnya mengenal resiko dan mengelolanya.
Maka kapanpun anda ditawari MLM, cobalah secara jernih mempertimbangkan skemanya. Mungkinkah break event point tercapai lebih cepat dibanding membuka usaha sendiri? Berapa banyak downline yang harus anda injak untuk mendapat sebuah mobil mewah? Apakah setiap keuntungan yang didapat bisa anda investasikan ulang secara bebas, atau anda malah semakin terikat karenanya? Berapa pesaing yang harus anda sikut demi sebuah villa mewah?
Dan yang terpenting, secara total kekayaan dan usaha yang harus anda keluarkan, apakah MLM ini membuat anda semakin kaya atau semakin miskin?
Tanyakanlah itu kepada orang yang sedang memprospek anda. Saya yakin ia malah akan berteriak kepada anda “Kok bermimpi saja takut?!”
4. Anda Membayar Sangat Sangat Mahal Untuk Kesenangan Orang Lain
Hal yang saya yakin tidak akan pernah dibuka oleh sebuah perusahaan MLM adalah perhitungan biaya produksi mereka. Karena kenyataannya untuk membiayai komisi ribuan distributir diperlukan selisih yang sangat besar antara biaya produksi dan harga jual. Maka bukanlah lelucon yang terlalu lucu kalau jumlah anggota MLM akan jauh lebih banyak daripada barang yang beredar. Jangan heran pula kalau anda harus membayar puluhan ribu rupiah hanya demi sesachet samphoo, yang kenyataannya bisa anda beli seharga 2000 di supermarket dengan kualitas yang tidak jauh beda.
Coba kirimkan surat kepada produsen produk MLM anda. Tanyakan harga pokok produksi setiap barang yang ditawarkan. Mereka akan dengan senang hati mengirimkan ratusan katalog untuk kelompok anda.
5. … dan lebih banyak lagi kebohongan, dan lebih banyak lagi, dan lebih banyak lagi…
Pernahkah anda diajari bahwa suplemen, apapun merknya, sebenarnya tidak boleh memuat testimoni dari orang yang sembuh? Tahukah anda bahwa produk yang anda jual bukan masuk kategori obat? Tahukah anda, suplemen sama sekali tidak boleh menjanjikan kata kesembuhan, pencegahan, mengobati, kanker, HIV/AIDS, dan sebagainya?
Tanyakan mengenai etika pengiklanan ramuan jamu dan obat di seminar MLM yang anda ikuti. Saya yakin mereka akan menyuruh satpam mengusir anda.
Di antara semua alasan-alasan itu, salahkah jika saya tidak begitu menyukai MLM? Ataukah saya harus pura-pura suka?
Alasan pertama saja sudah cukup vital untuk menghindari MLM.
alasan lainnya adalah merusak pertemanan. Si A adalah member mlm X, pas dia nelpon kita dan namanya muncul di hp kita, yang lsg muncul di kepala kita adalah “wah gua mau diprospek neh”, mendingan ga diangkat kan telponnya; daripada basa-basi bau ya ngga ? Padahal mungkin aja telpon penting dan ngga ada hubungan sama mlm-nya dia.
Pokoknya jadi ill-fill kalo menyangkut masalah mlm sama temen, apalagi kalau yang prospek ke kita klien. Berabe judulnya; ditolak klien, ngga ditolak kecebur……