Biasanya saya menaiki Transjakarta dengan senang hati, tapi hari ini tidak. Bus yang biasanya bersih terlihat kotor sekali, dan parahnya pendingin udara tampaknya mulai rusak sehingga air menetes ke tiga kursi sekaligus, menciptakan suasana yang sama sekali tidak nyaman bagi penumpang. Paling tidak satu kursi menjadi tidak bisa diduduki karena digenangi air. Hal ini semakin parah karena akrilik pelindung di pintu kanan-tengah retak, tinggal menunggu waktu saja untuk pecah dan mencederai orang lain.
Saya mungkin bisa mengerti bahwa pengelola armada mengalami kesulitan keuangan dengan gagalnya negosiasi kenaikan pembayaran per km dengan Pemda. Tapi mengabaikan hal-hal di atas tampaknya bukan pilihan bijak. Kursi dan lantai yang tergenang akan lapuk atau berkarat sehingga menimbulkan kerusakan baru yang lebih mahal untuk diperbaiki. Belum lagi jika harus membayar pemeliharaan kesehatan penumpang yang sewaktu-waktu bisa terkena pecahan pelindung pintu (yang letaknya tepat sejajar dengan mata, bayangkan. Mau tunggu ada yang buta dulu?).
Saya pikir ini bukan termasuk kritik, saya menulis keluhan ini karena saya tidak ingin layanan Transjakarta terus memburuk dan menimbulkan citra jelek terhadap kota Jakarta.
Apa kabar Transjakarta-Busway?
Kalau saya tak salah ingat tahun 2007 dulu ada ribut-ribut soal lomba NgaduTrefik yang menyebabkan banyak pengguna wordpress terkena suspend blognya akibat abusing menyebar trackback yang mengganggu pengguna blog lain. Saya pikir wajar pemilik blog tersebut kesal karena menyebar trackback ke mana-mana hanya untuk beberapa ratus ribu rupiah bukan perbuatan yang punya etika.
Tapi tampaknya fasilitas apapun seperti pisau bermata dua, ia bisa digunakan untuk melindungi diri seperti di atas, atau sebaliknya menjahati orang lain.
Maka bila kita berusaha menyingkirkan orang yang tidak kita sukai dengan memasukkan setiap komentarnya ke keranjang spam Akismet sampai ia kesulitan berkomentar di blog wordpress lain, apakah itu tindakan baik? Bukankah wordpress sudah menyediakan tombol delete message? Bukankah dia sendiri yang menyatakan kalau senang dengan komentar-komentar yang membangun untuk artikelnya?
Lalu mengapa meradang hanya untuk sebuah kritik?
Saya tidak akan menyebutkan siapa pelakunya, tapi biar nuraninya sendiri sajalah yang menghakimi dirinya sendiri.
Mohon maaf lahir batin, semoga Allah menyucikan hati kita dari dengki sebelum memulai puasa nanti….
Saya juga sempat terjebak pemikiran seperti ini dulu. Saya sebegitu inginnya memvisualisasikan anak MIPA dan teknik itu seperti sepasukan robot yang berpikir dengan rumus 1+1=2.
Tapi saya ingat sekeping cerita dari dosen saya dulu. Dia bercerita jika seorang insinyur, katakanlah, ingin mencetak ratusan mesin dengan panjang 10 cm, maka ia tidak bisa mengharapkan seluruhnya memiliki panjang tepat seragam 10 cm. Bagaimanapun insinyur tersebut harus sudah memperhitungkan bahwa cetakan itu bisa memuai, atau proses finishingnya tidak terlalu tepat, sehingga ia menyadari bahwa mesin itu bisa saja memiliki panjang antara 10,5 cm atau 9,5 cm.
Semakin ia menuntut panjang yang mendekati kesempurnaan maka semakin ia harus mengeluarkan biaya yang bukan main besarnya, bisa saja puluhan kali lipat sekedar untuk mengukur, menyortir, dan mencetak ulang seratus mesin dengan panjang tepat 10 cm.
Continue reading ‘IPA Itu Tidak Flexibel? Seni Tidak Boleh Berhitung?’
Sebenarnya hidup di Indonesia ini benar-benar mengherankan. Banyak orang menepuk dadanya sebagai ahli, bicara seperti ahli, dan berdebat bak seorang ahli. Tapi apakah ia benar-benar ahli?
Saya ingat buku tua yang pernah saya baca dulu, membedakan orang pintar dari peniru-penirunya sebenarnya tidak sukar. Seorang pintar sejati tahu sampai batas mana ia boleh menggurui orang lain. Ia diburu ketakutan bahwa kesalahan ucap atau tulis bisa menyebabkan ribuan orang keburu kagum dengan kepintarannya, sembari terjebak dalam kerusakan cara pikir secara massal.
Continue reading ‘Bertanggungjawab Itu Tidak Susah’
Kalau dulu saya harap-harap cemas menanti nilai ujian Desain Komunikasi Visual IV yang belum keluar, maka sekarang saya sedang harap-harap cemas mencari perusahaan yang mau menampung mahasiswa untuk Kerja Praktek, semacam magangnya kuliah.
Saya tidak tahu apakah sistemnya akan seperti orang yang kerja full time atau tidak, tapi selentingan yang beredar kalau minimal masa KP 3 bulan, beberapa perusahaan membebaskan mahasiswa untuk menyelingi dengan kuliah lain dan beberapa tidak, ada juga yang digaji dan ada yang tidak. (untuk yang ini mungkin perlu tanya lagi sama pihak kampus nanti).
Saya sendiri tidak berekspetasi apakah ingin menjalani KP sekalian mengambil kuliah lain, atau menginginkan bayaran, atau ingin berlama-lama, atau kah harus perusahaan yang bagus. Yang penting mata kuliah ini selesai dengan baik. Kalau memang perlu menjalani jam kerja seperti pekerja benaran ya it’s ok. Perusahaan kecil? No problemo, justru saya senang kalau ada tantangannya.
Sekarang ini sih sedang mengumpulkan list perusahaan yang butuh desainer grafis. Sekalian aja usil nanya, kira-kira ada perusahaan yang mau membuka lowongan untuk kerja praktek ga, ya? Ga digaji tidak masalah 
Saya melihat sudah banyak orang termakan isu plastik dan kanker-kankeran, kebanyakan menghubungkan dengan pemanasan di microwave yang dituding bisa menyebabkan dioxine lepas dari plastik dan mencemari makanan. Karena itu saya iseng menelusuri dari mana sebenarnya pernyataan seperti ini.
Guess what! Pernyataan sebaliknya malah keluar dari situs FDA.
http://www.fda.gov/FDAC/features/2002/602_plastic.html
FDA (Food and Drug Administration) sering menjadi tameng pembenaran bagi orang-orang iseng yang senang menakut-nakuti orang lain dengan isu kanker. Dari link di atas jelas bahwa tidak semua plastik berbahaya dalam microwave. Mengapa plastik dalam suatu kesempatan bisa bahaya, dan kapan kita tidak perlu khawatir dengan penggunaannya.
Intinya, semuanya aman asal kita mengelolanya dengan baik. Jangan mudah tertipu berita.
Setelah ini saya tidak akan menulis apapun lagi soal plastik-plastikan, soalnya saya cukup tahu diri bahwa saya bukan ahli kimia atau kesehatan. Lebih baik serahkan fatwanya kepada pihak yang berwenang, bukan begitu?
Setelah sebelumnya menulis fenomena Yahudi-fobia, tampaknya kali ini saya menemukan fobia lucu lain yang menjangkiti orang Indonesia. Fobia itu berhubungan dengan ….kanker.
Ya, orang kita sangat ketakutan dengan kanker sehingga berkali-kali termakan informasi palsu tentang bahaya plastik, kertas, indomie, optical mouse, sampai lipstik! Semuanya begitu ditakuti bak monster hanya karena takut terkena kanker. Lucunya lagi, apapun informasi itu, biarpun sudah jelas hoax tetap saja dibela mati-matian seolah memang bahasan seorang ahli hanya karena ia memunculkan satu kata, KANKER.
Continue reading ‘Kanker-Fobia’
Latest Comments
RSS