Sebenarnya hidup di Indonesia ini benar-benar mengherankan. Banyak orang menepuk dadanya sebagai ahli, bicara seperti ahli, dan berdebat bak seorang ahli. Tapi apakah ia benar-benar ahli?
Saya ingat buku tua yang pernah saya baca dulu, membedakan orang pintar dari peniru-penirunya sebenarnya tidak sukar. Seorang pintar sejati tahu sampai batas mana ia boleh menggurui orang lain. Ia diburu ketakutan bahwa kesalahan ucap atau tulis bisa menyebabkan ribuan orang keburu kagum dengan kepintarannya, sembari terjebak dalam kerusakan cara pikir secara massal.
Kalaupun terdesak untuk lebih banyak berbicara lebih dari kapasitasnya, seorang pintar akan wanti-wanti membedakan mana yang benar-benar sebuah ilmu, dan mana yang sekedar opini dirinya saja. Ia tahu bahwa opini akan banyak terdistorsi oleh rasa suka-tidak suka yang absurd. Sebaliknya jika ia benar-benar yakin dengan informasi yang dipegangnya, ia tidak akan malu-malu membeberkan dari sumber mana informasi itu diperoleh.
Lebih ekstrim lagi, seorang pintar sejati dengan berani mengatakan “Aku tak tahu”, tanpa merasa takut kehilangan status kepintarannya. Masalahnya ia sadar bahwa “tidak tahu” bukan berarti bodoh, ia hanya proses menuju titik “lebih pintar”.
Maafkan kalau ini terasa begitu menggeneralisasi, tapi rasanya bisa disimpulkan bahwa makin pintar seseorang, maka makin jarang ia mengeluarkan statement. Ehh… kecuali tentunya kalau negara ini kapan-kapan terkena wabah sariawan.
Setiap yang kita lakukan punya konsekuensi, bukan begitu?
Saya tidak membahas ahli-ahli bernama Roy Suryo, Onno W. Purbo, atau Hans J. Wospakrik. Saya cuma sedang menyentil diri sendiri. Kalaupun di halaman disclaimer saya ada pernyataan bahwa seluruh isi blog ini hanya opini, itu hanya sebuah pembenaran, bukan berarti saya seorang ahli asli, hehe.
Har, kamu harus bertanggung jawab ke saya .. sudah 2 bulan nih
*comment gak fokus*
Padi makin berisi makin merunduk?
Nggak bahas ahli-ahli tapi akhirnya sebut nama juga.