IPA Itu Tidak Flexibel? Seni Tidak Boleh Berhitung?

Saya juga sempat terjebak pemikiran seperti ini dulu. Saya sebegitu inginnya memvisualisasikan anak MIPA dan teknik itu seperti sepasukan robot yang berpikir dengan rumus 1+1=2.

Tapi saya ingat sekeping cerita dari dosen saya dulu. Dia bercerita jika seorang insinyur, katakanlah, ingin mencetak ratusan mesin dengan panjang 10 cm, maka ia tidak bisa mengharapkan seluruhnya memiliki panjang tepat seragam 10 cm. Bagaimanapun insinyur tersebut harus sudah memperhitungkan bahwa cetakan itu bisa memuai, atau proses finishingnya tidak terlalu tepat, sehingga ia menyadari bahwa mesin itu bisa saja memiliki panjang antara 10,5 cm atau 9,5 cm.

Semakin ia menuntut panjang yang mendekati kesempurnaan maka semakin ia harus mengeluarkan biaya yang bukan main besarnya, bisa saja puluhan kali lipat sekedar untuk mengukur, menyortir, dan mencetak ulang seratus mesin dengan panjang tepat 10 cm.

Eksplorasi minyak bumi hampir bisa dibilang mendekati perjudian. Memang ada ilmu geofisika dan geologi untuk meramal ada atau tidaknya minyak bumi di dalam tanah. Tapi hasil akhirnya tetap ditentukan oleh apakah setelah mata bor mencapai kedalaman tertentu ia memberi hasil lumpur bercampur minyak atau tidak.

Saya bukan ahli fisika atau kimia, tapi saya senang membaca sejarah bagaimana seorang Bohr lebih senang menentukan letak orbit elektron dalam ukuran ketidakpastian, ketimbang memaksakan kepastian mutlak seperti yang diinginkan Einstein.

Saya pernah membaca bahwa orang sosial pun pernah memiliki kesombongan sama dan berpendapat bahwa perilaku manusia tidak mungkin diperhitungkan dengan deretan angka. Toh akhirnya kita sekarang bisa menikmati hasil polling Pemilu atau sajian grafik peningkatan kriminalitas di ibukota.

Apapun cabang ilmunya, sepertinya tidak ada ilmuwan yang berani mengklaim perhitungannya 100 persen tepat. Di statistik kita menemukan istilah varian, di kalkulus saya pernah dengar galat, di pelajaran gambar mesin dulu saya harus belajar toleransi. Ini memperlihatkan kalau orang IPA pun masih percaya Tuhan, eh, maksudnya kejadian-kejadian spontan yang tidak bisa diperkirakan.

Maka mari berpikir sebaliknya, jika orang IPA saja tidak sok kuasa dengan angka-angkanya, lalu mengapa orang seni ngotot bahwa ilmunya hanya bergerak di sekitar kreativitas, naluri, dan spontanitas? Apakah kita memang diharamkan mengklasifikasikan, meneliti, dan menyimpulkan gejala-gejala tertentu dalam lingkungan seni? Tidak bolehkah kita meramalkan kejadian-kejadian tertentu di masa depan atau di masa lalu dengan mempelajari apa yang terjadi di masa kini?

Saya berkesimpulan, bisa jadi kita terjebak kepada istilah “ilmu pasti” untuk sains dan matematika, dan sisanya adalah ilmu-ilmu tidak pasti yang tidak boleh diramal, diukur, apalagi dipelajari. Istilah ini begitu lama bersemayam, di bahasa kita sehingga menciptakan stigma bahwa hanya seorang iblis dari neraka yang paling dalam yang boleh menciptakan teori-teori di bidang estetika ataupun seni.

Toh pada akhirnya teori tetaplah teori. Ia bisa saja terbukti salah seiring perjalanan waktu, atau setidaknya berubah seiring perubahan cara hidup dan cara pikir manusia. Jika hal tersebut memang terjadi, kita tinggal membuat teori baru yang lebih baik.

Maka apa salahnya jika saya mencoba mencari hubungan antara kecenderungan manusia terhadap warna merah dengan perubahan suhu udara setempat?

*Hehehehe, ini hanya pikiran nakal. Tidak setuju ya tidak apa-apa.

0 Responses to “IPA Itu Tidak Flexibel? Seni Tidak Boleh Berhitung?”


  1. No Comments

Leave a Reply