Saya pikir banyak masalah dalam teknologi di negara kita adalah ketidakmampuan kita untuk memilih barang sesuai kegunaannya.
Saya pernah diceritakan seorang teman bahwa di luar negeri, mahasiswa Asia, khususnya Indonesia, sering jadi bahan tertawaan. Bukan apa-apa, masyarakat di luar sana lebih senang menggunakan telepon seluler yang memang dikhususkan untuk SMS dan telepon, dan mereka sudah cukup puas dengan itu. Maka menggunakan HP lengkap dengan fasilitas 3G dan TV akan jadi pemandangan sangat aneh jika akhirnya yang punya saja tidak bisa mengoperasikan.
Pernah pula saya mendengar fotografer yang ngotot bahwa beli kamera itu harus yang terbaik, dengan kemampuan sensor full frame, lensa-lensa panjang, dan sederetan filter, sementara ia sendiri belum mengerti cara mengubah diafragma.
Saya pernah pula bertemu teman SMA yang begitu bersemangat menceritakan hebatnya Photoshop CS saat pertama kali keluar, sementara bedanya warna kontras dengan warna harmonis saja dia tidak tahu.
Ada pula cerita soal Hummvee yang berseliweran di Jakarta dengan angkuhnya. Sementara saya pikir walaupun perawatannya kurang, jalanan di sini belumlah separah di Afrika sono. Tidak pula ada perang besar di sini.
Saya jadi teringat cerita soal Vertu (awas, jangan tertukar dengan huruf I, ya) dari sebuah kuliah Komunikasi Visual. Ponsel ini berhasil menjadi ponsel bergengsi bukan karena ia canggih. Ia mengerti bahwa bagaimanapun tidak semua orang di dunia ini senang dibikin pusing oleh berbagai teknologi terbaru.
Karena itu ponsel ini menitikberatkan kerajinan tangan, dengan taburan batu-batu berharga, sementara menunya biasa saja, mirip sekali dengan yang dipakai di ponsel seribu umat, Nokia. Toh akhirnya brand ini sukses menjadi ponsel paling “wah” sedunia.
Jadi apa gunanya teknologi kalau malah memperbodoh kita?
0 Responses to “Pakai Sesuai Kebutuhan, Beli Sesuai Kemampuan”
Leave a Reply