Author Archive for hariadhi

Cuma Salah Sedikit….

Terinspirasi dari tulisan Mas Firman Firdaus tentang situs parpol peserta Pemilu 2009. Saya ingin mengomentari visualisasi situs-situs tersebut.

Saya sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan parpol tertentu. Pada dasarnya semua kesalahan ini dilakukan oleh semua situs parpol. Tapi saya batasi satu parpol satu kesalahan saja, biar adil. Kalau ada parpol yang situsnya belum saya kritik, itu hanya kebetulan saja, karena daftarnya saya ambil dari blog tetangga ini dan ini. Kalau ada yang mau menyumbang link ke situs papol lain saya ucapkan terima kasih banyak :D.

Continue reading ‘Cuma Salah Sedikit….’

Bertarung Ide

Mungkin saya harus menulis lagi tentang internet, tempat yang membebaskan kita untuk mengeluarkan ide-ide. Banyak yang hebat dan brilian, tapi ada pula yang tidak masuk akal.

Tapi setidak-masuk-akal apapun sebuah ide, ia harus dibiarkan berkembang. Seperti saat kita keberatan dengan tindakan sensor di internet, maka kita pun harus menghormati saat ada satu orang pengguna internet yang menyatakan harusnya internet itu lebih terkendali agar lebih mashalat bagi orang banyak. Atau mungkin bila kita mengecam tindakan terorisme, sebenarnya kita melepas hak untuk melarang orang-orang membuat situs jihad, membuat bom, dan sebagainya. Tidak ada gunanya mengecam pendapat seperti ini karena itu berarti kita memunculkan paradoks bagi pendapat kita tentang kebebasan.

Continue reading ‘Bertarung Ide’

oh, fuck…


:D

Pra-Skripsi

Setelah memberanikan diri melepas Kerja Praktik, sekarang saya memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan bahan-bahan skripsi. Memang sih sejatinya tidak bisa mengambil sidang skripsi sebelum menyelesaikan Kerja Praktik, tapi pengumpulan bahan dan pengajuan proposalnya sudah bisa dilakukan di mata kuliah DKV V.

Skripsi yang saya ajukan sebenarnya hanya sebuah pembenaran untuk bisa jalan-jalan. Hehehehehe. Boleh dong? Selama 3 tahun saya membanting tulang demi jatah SKS yang overdosis. Saatnya saya menikmati kuliah di masa-masa akhir. Sambil mengumpulkan data-data ilmiah, saya bisa sekalian jalan-jalan ke banyak objek wisata menarik.

Continue reading ‘Pra-Skripsi’

Teror

Teror mungkin sudah ada sejak zamannya assasin. Panglima militer atau pejabat dibunuh dengan keji di depan umum supaya semua anak buahnya kecut. Teror juga bisa jadi dimulai waktu Ninja bisa manggil malaikat maut tanpa ada tanda-tanda. Atau bisa jadi sudah dimulai sejak prajurit China senang menyembelih dirinya sendiri dalam memulai perang.

Teror juga bisa jadi dengan meracuni satu dari sekian banyak sumur warga. Cukup satu, dan seisi kota akan mati kehausan karena rasa horor dari keracunan.

Teror juga bisa dilakukan dengan bikin hukum yang aneh-aneh, sehingga warga mati kelaparan karena untuk keluar rumah cari makan saja banyak ancamannya.

Teror bisa dimiliki minoritas militan, bisa pula dilakukan penguasa lalim. Seorang Caligula bisa membuat seluruh warganya mati ketakutan melihat istrinya sendiri diperkosa atas kepentingan negara. Bisa pula dilakukan oleh Ivan The Terrible, yang bikin tak seorang pun di sekitarnya berani bersuara. Atau mungkin Pol Pot, yang membawa-bawa alasan perubahan hanya untuk mengubah satu generasi menjadi gunung menyeramkan.

Teror bisa dilakukan oleh orangtua kepada anaknya, manakala ia memaksakan semua pengalaman hidup hanya karena merasa lebih dulu lahir. Teror bisa dilakukan seorang teman kepada temannya, manakala ia mengucilkan hanya karena masalah perbedaan. Seorang anak kecil pun bisa bikin teror, saat keusilannya memainkan korek api bisa bikin seisi rumah kebakaran.

Teror bisa menyenangkan untuk orang yang berkepentingan dengannya, dan bisa menjadi momok bagi sasarannya.

Ada Saatnya Kita Mengaku Kalah

Sebenarnya saya sudah dapat tempat Kerja Praktek yang enak. Suasana kantornya bebas dan menyenangkan. Ini tempat idaman semua desainer, saya pikir.

Namun apa boleh buat, yang menjadi masalah saat ini adalah kuliah saya yang sama sekali tidak bisa ditawar. Dosennya menuntut kerjasama tim dan sekaligus mempersiapkan bahan skripsi. Jadi yang tersisa saat saya ngantor hanya perasaan letih dan pikiran bercabang. Tentu itu tidak bagus bagi perusahaan sendiri, akhirnya saya hanya makan gaji buta.

Bagaimanapun kantor tempat saya KP sudah memberi saya banyak keringanan. Tapi sepertinya tuntutan kuliah tidak pernah cukup, hingga akhirnya saya mengalami masa tidak sehat. Dalam seminggu sudah tiga kali demam, tidur hanya 4 jam sehari, hingga beberapa kali nyaris kecelakaan karena melamun.

Jadi tadi saya memberanikan diri untuk mengibarkan bendera putih. Tidak ada baiknya bagi saya ataupun perusahaan jika memaksa bekerja seperti ini. Adanya saya malah terus-terusan membuat repot.

Tutup Blog?

Masa host blog ini akan habis tanggal 10. Rasanya saya sudah tidak bersemangat untuk memperpanjangnya lagi. Entahlah, belakangan saya merasa kehilangan inspirasi untuk menulis hal-hal menarik. Secara pribadi kehidupan saya kacau.

Mungkin memang seperti yang saya baca di blog lain, euforia ngeblog sudah pudar. Saatnya yang benar-benar bagus bertahan, mirip seleksi alam.

Jadi apa saya harus tutup saja, ya?

Dark Eyes

Dapat mainan dari blognya mas Amed

RULES:
1. Put Your itunes, windows media player, winamp etc on Shuffle
2. For each question, press the next button to get your answer.
3. YOU MUST WRITE THAT SONG NAME DOWN NO MATTER HOW SILLY IT SOUNDS
4. Put any comments in brackets after the song name
5. Tag some lucky people to spread the disease

Continue reading ‘Dark Eyes’

Memprotes dengan Kreatif

Biaya perang Irak mencapai US$ 3 triliun? Sudah banyak yang tahu. Ribuan nyawa melayang gara-gara uang itu? Sudah banyak yang tahu. Banyak yang protes gara-gara itu? Sudah banyak juga yang tahu. Tapi kalau protesnya bisa dengan cara menyindir yang kreatif, bagaimana?

Coba lihat deh situs 3 trillion ini. Di sana kita bisa memesan barang-barang virtual dengan budget $US 3 triliun, setara dengan cek kosong yang diberikan kepada pemerintahan Bush untuk membiayai perang Amerika-Irak.

Barangnya bisa yang mengandung pesan sosial, misalnya sepotong roti untuk rakyat miskin seharga 9 dollar, yang berarti bisa dibagi-bagikan ratusan kali kepada seluruh orang di dunia. Atau sebaliknya yang tak masuk akal, misalnya benda bernama “kredibilitas Bush dan Cheney” yang cuma seharga 3 sen. :D

Uniknya ya semua benda yang mau dijual bisa kita ciptakan sendiri, atau pilih dari stok yang tersedia. Hebatnya lagi, ide kreatif ini dihargai dengan munculnya barang-barang setengah ngiklan, misalnya buku yang benar-benar bisa dipesan di Amazon. Hebat ya?

Sistem Ekonomi Islam (katanya)

Pertanyaan ini sudah bertahun-tahun menyangkut di kepala saya. Di salah satu blog saya temukan propaganda masalah ini. Ada yang ingin saya tanyakan kepada mereka yang begitu ngotot bahwa sistem ekonomi di Indonesia ini harus diganti dengan sistem ekonomi Islam, yang (katanya) seharusnya bisa mengalahkan sistem ekonomi kita yang (katanya lagi) begitu liberal.

1. Apa yang dimaksud dengan istilah “Islam” dalam Sistem Ekonomi Islam? Islam pada masa Muhammad, atau Islam pada masa Umayyah dan seterusnya, atau Islam pada masa modern ini?

2. Apakah monopoli sumber daya alam oleh negara memang dipraktekkan pada masa pemerintahan Muhammad? Adakah bukti sejarah, atau paling tidak hadisnya?

3. Pernahkah Muhammad mengeluarkan titah penetapan harga emas, gandum, daging, kurma, atau sejenisnya?

4. Pernahkah Muhammad membentuk perusahaan negara dengan alasan melindungi rakyat kecil?

5. Pernahkah Muhammad melarang produk luar negeri (katakanlah dari Romawi, India, atau Afrika) masuk karena takut merugikan pengusaha Arab?

6. Pernahkah Muhammad mengeluarkan perintah subsidi harga kurma?

Saya tidak menguji, hanya ingin mengetahui seperti apa sebenarnya Sistem Ekonomi Islam itu. Benarkah ia ada, ataukah sosialisme yang dibungkus religi saja?