Danau Buatan, Rumbai
Halo Teman-Teman Mahasiswa di Riau
Apa kabar? Sore ini saya, Hariadhi, ingin menyapa teman-teman semua dari Jakarta. Meskipun sudah tinggal nyaris 20 tahun di negeri orang, saya masih ingat indahnya berjalan-jalan di Kompleks Chevron, memancing di Jurong, diam-diam naik motor ke Sidinginan walaupun belum punya SIM, atau menggelar tikar makan bersama pakai rantangan di monumen sumur minyak pertama di Minas. Saya masih ingat setiap detail kehidupan di Riau.
Setahun sebelum pergi meninggalkan Riau untuk sekolah di Bandung, bencana asap terus meningkat dan mengganggu kita semua .Saya ingat siapa-siapa saja teman saya yang terpaksa diterbangkan ke Batam, Jakarta atau Singapura untuk mendapat perawatan khusus karena paru-paru mereka tak setahan kami. Suasana menjelang Ujian Akhir Nasional (dulu namanya EBTA dan EBTANAS), sama sekali tidak menyenangkan, karena jarak pandang tinggal 10 meter saja.
Ya! 10 meter di depan kita saat itu, yang terlihat hanyalah warna putih pekat. Dan semua orang diwajibkan memakai masker dengan spesifikasi khusus.
Saat itu era reformasi. Di usia SMP, saya selalu menyempatkan membaca koran-koran dan majalah politik. Gatra, D&R, dan banyak lainnya adalah makanan sehari-hari yang saya baca ulang lagi dan lagi karena dulu saat belum ada internet, informasi adalah sebuah kemewahan. Saya dituding aneh karena saat yang lain asik main video game, berkonvoi motor ramai-ramai ke Sumatera Barat, saya memilih duduk di perpus menganalisa kondisi politik terkini.
Hulu Sungai Musi di Empat Lawang
Saya sangat mengerti bahwa sumber awal semua bencana itu adalah kediktatoran kroni Cendana dan gerombolannya (bukan Cendana sekolah ya, karena saya juga sekolah di sana, hehe). Menjelang krisis moneter 1998 yang membuat helai gaji orangtua kita tak lagi berharga, banyak sekali izin hutan yang diterbitkan, diserahkan pengelolaannya kepada orang-orang yang dekat kepada kekuasaan. Hutan Riau adalah salah satunya.
Setelah kelar dibagikan, maka hutan-hutan itu perlahan dibuka, digarap, dipupuk, ditanami sawit dan karet. Dan membakar adalah solusi membuka lahan paling efisien secara biaya.
Saya berharap banyak bahwa jatuhnya Suharto dan kroni-kroninya bisa memperbaiki itu semua. Di usia belasan tahun saya melihat seramnya Mei 98. Bukan hanya di Jakarta saja. Di Pasar Simpang, Duri, ruko-ruko dibakar, kaca yang mahal itu dilempari batu. Kekacaua di mana-mana. Tapi saya yang pertama berdiri dalam debat saat istirahat siang di kelas menyatakan bahwa itu semua adalah perlu untuk menjatuhkan sebuah kediktatoran.
Sebuah perubahan mahal harganya.
Namun kemudian, kita semua bisa merasakan bahwa reformasi yang diperjuangkan oleh banyak nyawa mahasiswa dan rakyat kecil yang meregang nyawa di pusat perbelanjaan yang terbakar itu nyaris tak tampak hasilnya, selain bahwa setiap beberapa tahun sekali, kita diperkenalkan dengan cara memilih pemimpin yang baru, yang katanya lebih demokratis. Tapi ternyata bahkan sampai kita memilih presiden sendiri pun, asap tebal itu tidak juga hilang. Bahkan dari sejak saya lulus SMP, sekolah di Bandung, Kuliah dan kerja di Jakarta, bahkan nikah dan punya anak pertama yang cantik, asap tebal setiap tahun meneror anak-anak di Sumatera.
Bencana asap 2015, saat Jokowi baru memulai kepemimpinannya.
Dan mulailah ada yang namanya gerakan Golput. Sebuah gerakan tak percaya lagi kepada Demokrasi.
Saya awalnya golputter, sebelumnya, dan kemudian sempat ngefans dengan PAN dan PKS, sebuah partai yang populer sekali di Riau. Saat namanya masih Partai Keadilan, kadernya memukau saya karena merekalah yang pertama kali mencerminkan keprihatinan kita semua. Kader Partai Keadilan, dipmipin oleh Bapak Hidayat Nur Wahid satu per satu menolak kendaraan dinas mewah. Mereka ngotot mengembalikannya ke negara dan hidup bersahaja dengan mobil pribadi.
Jujur saya dulu sempat bersimpati kepada perjuangan HTI, malah. Hanya untuk menemui bahwa mereka pun hanya meributkan kekuasaan. Bedanya kalau dulu kekuasaan di tangan kita sendiri sebagai bangsa yang merdeka, HTI mau membuat kekuasaan itu dipegang kekilafahan internasional, yang pastinya akan didominasi orang-orang Arab sana.
Saya juga alergi PDIP dan partai-partai pembawa paham nasionalisme lainnya. Buat saya mereka sekumpulan orang males Salat, penyebar ajaran liberal, dan juga percaya (dulu) bahwa mereka itu punya tujuan jangka panjang membangkitkan komunisme. Dulu.. waktu saya belum paham apa itu ideologi dan politik
Saya giat dalam berbagai kegiatan relawan. Menemui anak-anak SD yang sekolahnya terendam banjir. Ikut menyumbangkan makanan dan alat kebersihan untuk warga yang kebanjiran. Karena saya kuliah dan kerja di Jakarta. Seperti juga Sumatera, di Jakarta kami menghadapi bencana tahunan bernama “Banjir”. Sejak reformasi, banjir ini juga tak kunjung selesai. Malah tambah parah. Dan bahkan setelah sistem pemilihan gubernur berubah jadi pemilihan langsung pun, Jakarta tetap saja banjir.
Saya juga dulu relawan Pak Anies Baswedan. Saat orang ribut dengan Indonesia Mengajar, saya sudah terlanjur dua tahun lulus kuliah. Maka saya dan teman-teman mengumpulkan buku untuk para pengajar muda di Paser. Gerakan itu menjadi Book for Paser, lalu bertransformasi menjadi Indonesia Menyala. Entah bagaimana caranya, tapi yang jelas setelah jadi Indonesia Menyala pun saya tetap bantu dan keep contact. Pak Anies Baswedan teramsuk salah satu idola saya di awal, selain Pak Jokowi.
Sampai akhirnya saya mengerti ujung dari perjuangan kerelawanan. Saya baru mengerti bahwa kepedulian sosial yang saya praktekkan di lapangan itu tetap akan bermuara kepada politik. Percuma kita bantu korban banjir, kalau policy dan pembangunan kota, pajak kita semua, tidak dirancang untuk membasmi banjir secara terstruktur, sistematis, dan masif, TSM, kalau kata Bang Egy Sudjana.
Kita tidak bisa bilang peduli kondisi rakyat kecil kalau tidak berpartisipasi dalam politik dan demokrasi. Sebab hal-hal terkecil, seperti harga beras, gula, mi instan, telur, cabe, dan lainnya, semua adalah hasil keputusan politik bersama-sama oleh masyarakat. Salah pilih pemimpin, mau bagaimana pun produktifnya masyarakat, akan berujung kesengsaraan bertahun-tahun, bahkan setelah si eks pemimpin tidak menjabat lagi.
Dan pertama kali saya mulai menyuarakan dukungan, itu adalah tahun 2007. Yang saya dukung adalah Calon Gubernur dari PKS, namanya Adang Daradjatun. Saya menyukai kandidat ini karena mengerti sekali gerakan relawan. Waktu itu mereka berkampanye tidak lagi dengan cara-cara konvensional. Relawan Orange namanya, berkampanye dengan karya nyata, membersihkan jalan, selokan, bersih-bersih, bantu korban bencana, dan lainnya. Dan Foke, sang wakil gubernur yang akan menjadi penerus Sutiyoso, terpaksa belok arah dari kampanye konvensional jadi ikut-ikutan bikin Orangnye Jakarta, alias Tim Orangnye.
Bahagia sekali menjadi salah satu simpatisan Adang waktu itu. Walau saya tidak banyak terlibat aktif dalam gerakan relawan itu, saya merasa Adang harusnya memimpin Jakarta dengan segenap relawan-relawannya.
Namun sayangnya tidak kejadian. Tapi itu meninggalkan memori indah bahwa seorang Adang Daradjatun, dengan dana kampanye terbatas dan hanya disokong oleh PKS, nyaris menang dan menguasai sektar 48% suara Pilkada DKI 2007, melawan banyak sekali partai!
Saya jadi teryakinkan bahwa suatu saat, harus ada pemimpin yang berhutang kepada dukungan akar rumput dan relawan. Bukan karena didukung banyak partai atau modal besar. Itulah yang akan membuat dia merasa berhutang dengan rakyat. Karena yang ia hutang budi-kan adalah orang-orang yang mendukung dengan keringat dan air mata.
Saya mendukung Jokowi bukanlah karena kagum sama PDIP, Nasdem, Gerindra atau lainnya. Seorang simpatisan PKS di sebuah kementerian lah yang memperkenalkan saya dengan informasi sesosok Walikota cungkring, yang rendah hati, yang penampilannya sederhana, yang mulai jadi buah bibir. Pemipin besar itu muncul di Solo, sukses mentransformasi Solo dari kota berantakan jadi percontohan tata ruang keren se Indonesia. Ia melakukan itu dengan penuh kasih sayang ke rakyatnya. Warga di Pasar Banjasrasi diajak makan sampai puluhan kali dan akhirnya punya kesadaran sendiri untuk pindah setelah bingung kenapa mereka tak juga kunjung digusur.
Dan Walikota itu didukung oleh PKS!
Betul, Jokowi berasal dan didukung PDIP. Tapi bagi saya dialah muka PKS sejati. Orangnya sederhana, tiap Senin Kamis rajin puasa, salatnya full lima waktu, diminta jadi imam bisa, gajinya dia serahkan ke orang miskin, dan saking tak ada tampilan pemimpin, sering tertukar dengan ajudannya. Hahaha. Itulah figur khas orang-orang PKS yang seharusnya, ya to?
Bagi saya, Jokowi itu PKS banget. Waktu itu..
Tapi saya belajar untuk memilah-milah antara politik elit, intrik pergaulan partai, tawar-menawar mahar, dan berbagai kasus korupsi, untuk sampai kepada kesimpulan bahwa bukan masalah PKS atau tidaknya, namun pemimpin bisa menjadi pemimpin besar ya karena karakternya. Atas track recordnya. Kinerja dan kepeduliannya, itulah yang dirasakan dan membuat rakyat mau memilih.
Jokowi PKS sekali, tapi ia kemudian membuktikan bahwa karakter itu muncul bukan karena dia didukung oleh PKS. Tapi itulah Jokowi apa adanya.
Saat ribut-ribut perkara mahar, dan mulai ada satu dua kader PKS terjerat korupsi, saya mulai belajar bahwa partai pun hanyalah sebuah alat kekuasaan. Yang menentukan bersih atau tidaknya, peduli atau tidaknya, bukanlah partai. Namun figur… keteguhan hati seorang pemimpin.
Saya pun mulai hilang simpati kepada seluruh partai. Tak peduli mau itu PDIP, PKS, Gerindra, hantu belau… Itu semua cuma kendaraan, mesin partai. Ideologi dan pemikiran itu ada di kepala seorang pemimpin. Dalam hal ini, Jokowi.
Image result for jokowi meranti kanal gambut
Maka saya memilih Jokowi di Jakarta. Saya juga awalnya tidak begitu senang wakilnya Ahok. Saya orang Minang, dan punya sedikit antipati terhadap orang China. Udahlah sipit, kapir pula! Pikir saya waktu itu, ragu apa iya benar mau mendukung mereka berdua.
Tapi seiring perjalanan kepemimpinan Jokowi-Ahok, keduanya bisa membuktikan bahwa mereka kerja keras untuk Jakarta. Tak hanya Jokowi, Ahok juga lincah memainkan perannya sebagai wakil Jokowi, memarahi PNS yang korup, menutup jalan penyelewengan, sampai membangun sistem e budgetting yang membuat berbagai program sosialisasi ini itu yang memang sebagai konsultan kita kenal sebagai ajang memeras duit pajak rakyat, ditulisi Nenek Lo!
Maka saya tak ragu lagi memberikan dukungan kepada Jokowi 100 persen di Pilpres 2014. Ada pula salah satu favorit saya yang lainnya, Anies Baswedan, menjadi juru bicara. Lalu Dahlan Iskan yang juga berlabuh kepada Jokowi karena ia paham betul dan mengawasi kinerja Jokowi saat masih menjadi Menteri BUMN.
Klop! Presiden kita 2014 Jokowi saja.
Dan saya begitu senang keinginan itu terkabul. Pakde Jokowi yang hanya punya kekayaan sekitar Rp 20 Miliar (kecil sekali untuk ukuran politisi skala nasional), hanya dianggap petugas partai di PDIP, dan mengandalkan dukungannya kepada kerja keras relawan, bukan pertempuran antar elit, bisa menjadi seorang presiden, persis bayangan si simpatisan PKS yang saya temui di salah satu Kementerian, yang saya ceritakan di atas. Pakde Jokowi, sesuai visi si simpatisan itu, sebenarnya terlalu besar untuk hanya bergerak di kolam kecil bernama Solo. Levelnya sebenarnya Presiden, seorang pemimpin skala nasional.
Jokowi seorang pengusaha yang tak kaya-kaya amat, awalnya bukan siapa-siapa di partainya, dan potongannya ya gitu deh, tiba-tiba mengalahkan Prabowo yang sejak kecil sudah makan dengan sendok perak, figur terpandang di Partai Gerindra, dan punya tampang gagah karena mantan Jendral dari Orde Baru..
Jokowi jadi presiden bukan sekedar sebuah perjuangan politik, lebih jauh ia mewujudkan mimpi setiap anak-anak Indonesia. Bahwa jadi Presiden itu bisa dari siapa saja, asal dia mau kerja keras. Tak mesti punya darah biru Cendana atau Sukarno. Tak mesti punya duit banyak. Tak mesti pula harus pernah jadi Jendral.
Semua anak sekarang boleh mimpi jadi Presiden, terima kasih kepada inspirasi yang diciptakan Jokowi.
Dan tahu apa yang membuat saya makin memilih Jokowi? Sebuah nasihat yang diciptakan oleh Imam Syafi’i yang sering saya baca sejak kecil “Pilihlah Pemimpin yang banyak anak panah fitnah terarah menuju kepadanya.”
Ya, awal kekecewaan saya terhadap teman-teman di seberang adalah banyaknya fitnah yang mereka ramaikan, terkait Jokowi anak Ong Hong Liong, Jokowi bukan anak ibunya, Jokowi antek PKI, Jokowi dilindungi konspirasi global, Jokowi membela kepentingan asing aseng, Jokowi tak salat, Jokowi anaknya hamil di luar nikah. Tak satupun dari fitnah itu terbukti. Tak pula mereka mau bertabayun dan mengakui fitnahnya salah dan minta maaf.
Saat saya tanya kepada teman-teman yang masih di seberang, mereka dengan bangga menyatakan bahwa itu adalah bagian dari perjuangan. Bahwa tipu daya adalah bagian dari peperangan, buat mereka, memfitnah saudara sendiri disamakan levelnya dengan jihad.
Maka tak salah kan, kalau saya mengikuti nasihat Imam Syafi’i untuk memilih pemimpin seperti Jokowi?
Teman-teman mahasiswa di Riau punya pandangan beda? Merasa saatnya kita Ganti Presiden? Sandiaga Uno lebih mumpuni? Pidato Prabowo lebih garang? Jokowi harusnya mundur?
Saya akan terima pilihan itu dengan lapang dada. Itu bagian dari demokrasi. Dan saya tidak akan balik menyerang teman-teman. Berbeda pilihan itu adalah sunatulloh dalam demokrasi. Kelebihan kedua kandidat bisa kita perbandingkan dan kita pilih dengan kepala dingin, siapa yang terbaik.
Teman-teman kita yang cewe, andai merasa rahimnya menghangat dan bergetar melihat senyuman dan lirikan Uno, itu juga hak. Wong penampilan itu juga bagian dari “jualan” seorang politikus. Ga haram kok memilih karena alasan subjektif.
Bahkan kalau teman-teman sampai kepada kesimpulan bahwa Uno lebih ganteng dan kaya dibanding Jokowi, sehingga Pakde sudah waktunya diganti, saya juga tidak akan menggugat itu. Bahkan kalaupun teman-teman alasan dukung Uno nya adalah karena dia putra Riau, juga silakan. Seru juga kalau suatu saat kita bisa mewujudkan mimpi anak Riau bisa jadi wakil presiden, walaupun sayangnya Uno sebenarnya cuma numpang lahir dan TK sebentar di Riau. Kehidupan Uno lebih banyak dihabiskan di Jakarta dan luar negeri.
Tapi yo wis lah, literally sangat obvious which is mendukung Sandiaga Uno is a definitely adalah sebuah hak yang tidak bisa diganggu gugat, kata anak Jaksel, tempat gaulnya Uno.
Saya cuma mau mengingatkan sedikit saja. Bahwa pendamping Sandiaga Uno adalah Prabowo Subianto. Prabowo, walaupun kemudian dicerai dan selalu gagal rujuk 5 tahunan, tetap bagian dari Orde Baru. Ia menikmati lho kemegahan keluarga Cendana. Saat terakhir Suharto turun, ia masih bersikukuh bahwa presidennya Suharto lho. Dia lho yang memerintahkan pasukannya mengamankan Jakarta saat treagedi 98. Dia juga lho yang mengaku sendiri kalau telah menculik beberapa aktivis mahasiswa (walau harus diakui tidak semua). Tapi tak bisa dibantah, Prabowo pernah jadi bagian Orde Baru. Prabowo adalah trah Cendana.
Coba pakek HP pemberian ortunya untuk Googling, dari mana Prabowo dapat Kiani alias Kertas Nusantara? Coba googling lagi kaitan Prabowo dan Bob Hasan, salah satu pengusaha yang berkibar sejak era Orde Baru. Cek latar belakang Bob Hasan. Cek kaitan Bob Hasan dan Cendana.
Cek berapa banyak kayu di Kalimantan dibabat untuk kelangsungan hidup Kiani. Dan dari sekian juta dollar dihasilkan, sudah berapa lama gaji buruhnya tidak dibayar.
Semua akan benderang bagi teman-teman semuanya.. saya bukan memfitnah, cek saja faktanya, buka Google.
Dan ingat kembali, dari mana sumber seluruh bencana asap yang sudah membunuhi dan menyiksa balita kita di Riau? Pengusaha-pengusaha sawit hitam itulah penjahat yang ada di belakang penderitaan teman-teman kita yang terpaksa dikirim ke Batam, Singapura, dan Jakarta karena menderita asma dan ISPA.
Mau bukti bahwa Pak Jokowi berada berseberangan dengan penjahat-penjahat itu? Coba pakai smartphonenya dengan proper. Gunakan untuk googling informasi, bukan sekedar memobilisasi massa untuk sebuah pengakuan jadi aktivis kesiangan. Coba teman-teman mahasiswa cari tahu sudah berapa tahun belakangan Riau dan provinsi Sumatera lainnya relatif BEBAS dari bencana asap tebal?
Saya pernah mengajukan pertanyaan itu ke salah satu millenial di Riau, jawabannya kocak.
“Bencana asap? Asap apa ya Bang? Asap yang mana?”
Ya..sudah begitu lama kita tidak menderita oleh bencana asap, sampai anak-anak muda, para pemilih pemula melupakan bahwa 17 tahun tanpa henti kita hidup dicekik asap akibat keserakahan pengusaha hitam.
Kita merasakan bahwa langit terang benderang dan bersih di Riau itu sebagai sesuatu yang taken for granted. Suatu anugerah yang biasa saja, bukan hasil sebuah perjuangan, sehingga ujungnya kita menyadari itu semua sebuah kondisi yang istimewa. Kita gengsi mengakui bahwa itu adalah jasa seorang Jokowi yang dipilih mayoritas Rakyat Indonesia pada tahun 2014.
Nyaris tidak ada yang ingat bahwa empat tahun sunset di Riau yang jernih dimulai dari kebijakan keras Pak Jokowi melalui Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup yang menghentikan keluarnya izin pembukaan lahan baru Ya.. tidak ada lagi jual beli izin yang ujungnya membuat jutaan hektar lahan di Sumatera berubah jadi kepulan asap.
Saat satu-dua perusahaan tertangkap membakar lahan sembarangan, maka perusahaan-perusahaan itu dituntut dengan hukuman keras. Denda ratusan miliar, bahkan mendekati 1 triliun, dan penjara. Sehingga para pengusaha hitam itu jera mengkambinghitamkan petani-petani kecil dan penduduk asli atas tindakan mereka membakar untuk membuka lahan.
Coba diingat-ingat, zaman Pak Mantan yang lebih baik tidak disebut namanya, siapa yang pertama disalahkan kalau bencana asap tahunan dimulai? Pasti petani kecil dan penduduk asli yang hidup berpindah-pindah!
Image result for jokowi replanting riau
Pak Jokowi juga yang langsung datang ke lokasi kebakaran dan menerapkan inovasi sekat kanal gambut supaya kondisi lahan tidak pernah kering total. Coba tanya kepada pengusaha-pengusaha sawit itu, pasti mereka ingin sebisa mungkin kebun mereka kering total, tak ada sedikit pun air menggenangi.
Kenapa? Karena sawit itu aslinya tumbuhan gurun! Padang pasir! Kalau terbenam air, pasti sawit itu mogok berbuah. Maka kalau Riau mau jadi penghasil sawit nomor satu, seisi provinsi ini harus diubah jadi GURUN! Itulah niat buruk pengusaha hitam yang kuasai ribuan hektar lahan sejak era pemerintahan terdahulu itu.
Kalian, teman-teman mahasiswa, mau Riau berubah jadi gurun tandus? Belalah kepentingan pengusaha hitam yang menguasai ribuan hektar lahan sawit. Merekalah yang ada di balik langkanya gajah, pembakaran orang utan tanpa kemanusiaan, dan hilangnya rumah bagi burung-burung di Sumatera. Merekalah yang ada di balik kasus kelaparan suku-suku asli semacam Suku Anak Dalam di Jambi. Merekalah yang ada di balik boikot atas sawit Indonesia yang disebabkan perusakan lingkungan yang dihasilkan oleh CPO Indonesia.
Keserakahan atas lahan Riau!
Tapi jangan salah, memusuhi pengusaha sawit besar, bukan berarti Pak Jokowi ikut menginjak petani kecil. Justru ia membantu petani sawit kecil dengan meberikan mereka bantuan replanting gratis, bahkan meminjamkan alat canggih macam traktor untuk menumbangkan pohon-pohon sawit tua berusia 25 tahun lebih yang tidak lagi produktif. Dengan demikian petani-petani kecil itu tidak lagi membakar lahan. Mereka punya opsi.
Kenapa? Justru dari petani kecil lah, kita bisa mengharapkan sawit tidak ditanam secara monokultur. Kalau teman-teman pernah berkunjung ke kebun sawit rakyat, bisa terlihat bahwa di samping memelihara sawit, mereka juga menanam selingan cabe, sayur, memelihara ayam, sapi. Bahkan sesekal bisa kita lihat tanaman jengkol di sela pelapah sawit.
Itulah solusi kerusakan lingkungan kita, mengupayakan penanaman heterokultur. Dicampur-campur. Tidak seragam sawit atau karet semua. Tak mungkin kita secara total membasmi sawit. Karena menanam sawit adalah sebuah perjuangan dan keringat para petani. Ia baru berbuah setelah 3-5 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, petani harus menahan tangis melihat gajah, babi, dan hewan lainnya merusak bibit mereka, lalu ditanam lagi, lalu dirusak lagi, demikian seterusnya dalam 3 tahun, sampai mereka baru bisa mulai memetik hasilnya.
Bandingkan dengan kebun perusahaan-perusahaan rakasa. Pasti monokultur!
Saya tidak akan meributkan betapa pesatnya pembangunan infrastruktur di Sumatera. Sudah berapa kali saya coba, pasti yang namanya pembenci Jokowi pasti akan mengatakan pembangunan Tol Sumatera hanya dinikmati orang kaya yang punya mobil. Mempekerjakan tenaga asing aseng. Etc etc. Sebuah brief hapalan yang mereka juga tidak mengerti apakah benar atau tidak.
Cobalah cek ke Minas, di sana kita bebas melihat pembangunan Tol Dumai-Pekanbaru-Padang, tanpa harus minta izin. Adakah pekerja aseng yang ikut-ikutan menggarap tol di sana? Tidak mungkin, karena yang menggarap adalah BUMN 100% Inonesia: PT Hutama Karya Infrastruktur!
Tol bukanlah untuk dinikmati orang kaya. Pengguna bus, panggaleh kecil yang hendak jual buah-buahan dan telur yang cepat busuk, pasti bahagia kalau ada tol. Dan lebih jauh, membayar ongkos tol jauh lebih murah dibanding harga BBM yang terbuang karena jalan berkelak-kelok dan naik turun bukit. Mahalnya tiket tol tidak akan sebanding dengan pemborosan BBM kalau lewat jalan non tol! Belum kalau kita hitung efisiensi waktu.
Tapi ya sudahlah, kan katanya yang penting dari pemimpin itu bukan pembangunan infrastruktur. Karena katanya membangun itu memang sudah tugas pemimpin, lagi-lagi argumen klasik dari para pembenci.
Okelah.. Kita lihat saja kembali karakter Pak Jokowi. Kurangkah kepeduliannya kepada Sumatera? Kepada Riau? Tidak pernah kurang… Entah sudah berapa kali Pak Jokowi hilir mudik mengunjungi Riau, Jambi, Palembang dan Sumatera Barat. Padahal tak satupun provinsi itu tanah kelahiran Pak Jokowi.
Teman-teman mahasiswa pernah hitung, berapa kali Sandiaga Uno mengunjungi Riau? Pernah bandingkan dengan jumlah kunjungan Jokowi? BTW Prabowo lho Capresnya, bukan Uno.
Berapa kali Prabowo kunjungi Riau? Mendengarkan keluh kesah teman-teman mahasiswa teman semua? Pernah?
Jokowi, berkunjung ke Riau dan disambut demo penolakan. Ia tidak baper seperti Neno Warisman. Padahal seorang kepala negara justru berhak sekali minta dihormati. Respon pak Jokowi hanya singkat “Biarkan saja…”
Pak Jokowi sama sekali ga sibuk curhat di media. Ia memerintahkan anak-anak muda itu menemui dia kemudian, untuk didengarkan aspirasinya. Padahal aspirasi anak-anak itu aneh bin ajaib, protes atas kenaikan HARGA PERTALITE, yang sebenarnya memang selalu naik dan turun karena mengikuti harga minyak internasional.
Ngapain coba, protes harga pertalite naik? 🤣🤣
Mari saya ingatkan, dulu saat belum ada kebijakan BBM satu harga, di Duri itu salah satu contoh paling buruk dari ketersediaan BBM. Di depan stasiun pengisian dekat Desa Harapan itu, saya pernah lihat ada pengecer dengan santainya pasang papan di depan SPBU resmi: BENSIN 30 RIBU!
Miris ga? Padahal Riau itu penghasil minyak terbesar? Masa kita yang menghasilkan minyak, kita pula yang dicekik dengan harga BBM?
Tapi Pak Jokowi sangat sadar, bahwa protes atas kemapanan adalah bagian dari perjuangan anak muda. Ia juga pernah jadi pejuang muda, dengan jadi pendaki gunung. Gunung Kerinci, di provinsi tetangga kita adalah salah satu gunung kegemarannya untuk didaki. Pak Jokowi itu sama kaya kalian semua, pecinta alam. Ia sangat mahasiswa friendly.
Prabowo? Woh.. Prabowo juga pecinta gunung. Tapi sejauh ini yang ia banggakan adalah PERNAH MENGIRIMKAN pasukannya untuk mendaki Gunung Everest. Prabowo sendiri? Mbuh…
Sandi? Mbuh… entah pernah naik “gunung” yang mana, saya ga ngerti.
Jadi apa yang sebenarnya kalian perjuangkan, mahasiswa? Ngotot demo untuk apa? Meminta presiden turun untuk apa? Apa beras sudah tak tersedia di rumah orangtua kalian? Apa bensin sudah menghilang berminggu-minggu? Ada antrian sembako di Riau? Ada kekacauan keamanan? Ruko-ruko dipecahkan kacanya dan dibakar bak Mei 1998?
Jokowi mesti diturunkan untuk alasan apa?
Turun cuma karena dollar sekarang Rp 15 ribu? Yaelah, mahasiswa… Di zaman Jokowi, dollar itu cuma turun perlahan dari 12.500 an ke 15.000. Penurunannya kira-kira 20 persen. Coba kalian bandingkan dengan era Mantan yang tak perlu disebut namanya, dollar sempat turun dari 9 ribuan ke nyaris 13 ribuan. Itu penurunannya 30 persenan. Dua kali pula terjadinya, tahun 2008 dan tahun 2012-2013.
Dulu zaman mantan rupiah turun drastis itu kalian pada ke mana? Kok ga ada satupun bernyali untuk demo turunkan Sang Mantan? Kok ributnya minta turunin Jokowi? Ada apa?
Apa jangan-jangan remasan tangan Om Uno membuat rahim kalian hangat dan bergetar?
Coba adil itu sejak dari dalam pikiran, kata Om Pramoedya Ananta Toer. Coba kalau mau ngomong penderitaan rakyat itu referensinya ke Buku Max Havelaar. Ga usah cape-cape tamatin karya Marx lah. Ntar dituding menyebarkan pahamkuminis pula ye kan? Paling tidak coba baca Runtuhnya Surau Kami, karya AA Navis. Itu juga bicara sulitnya hidup rakyat miskin.
Eh saya lupa. Ini yang saya ajak membaca dan berpikir mahasiswa-mahasiswa muda JAMANNOW yang bacaannya Chiclit sih ya?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: