POSKO GARUNDANG: Bukti Tak Semua Orang Minang Memusuhi Jokowi.

Scroll down to content

 

hariadhi2.jpg

Sabtu 22 September dalam keadaan gerimis, tadi malam sebelum berangkat lagi ke Bandung, saya bertemu Ummi Nurul. Ummi ini sudah saya anggap sebagai orangtua angkat selama di Jakarta, apalagi menghadapi pressure pergaulan orang Minang yang cenderung memusuhi siapapun yang membantu Jokowi dan Ahok. Sekali sebulan saya mengunjungi untuk mendengarkan petuahnya. Ia juga banyak prihatin atas sikap membenci orang Minang yang begitu keterlaluan kepada Jokowi. “Ummi ada rekan sudah jadi pejabat, harusnya pintar dan tabuka wawasannyo. HP nya bagus berinternet. Eh masih juga dia bilang Jokowi itu Kuminis. Kan ndak masuk akal itu…”

Ummi Nurul sendiri orang Sumatera Barat. Kampungnya sama dengan saya, Payakumbuh. Melihat dia, saya seperti melihat kembali almarhum nenek saya yang juga senang mengaji dan memberi nasihat kepada cucu-cucunya dulu. Di umur segini, hapalan dan matanya masih tajam luar biasa.

Ummi sudah dari 2 bulan lalu bercerita betapa inginnya dia, rumahnya dijadikan posko relawan tempat berkumpulnya orang-orang Minang pendukung Jokowi. Sederhana saja permintaannya “Tolonglah Nak Ari, buekan Ummi spanduk agak 4 meter di jendela ko. Tulis gadang-gadang: GARUNDANG.” Sembari menunjuk jendela-jendela di depan rumahnya. Saya senyum dan mengiyakan. Omong-omong garundang itu sama saja dengan berudu alias kecebong. Kecebong Bahasa Indonesia, berudu cenderung digunakan penutur Bahasa Melayu di Sumatera, sementara garundang itu bahaso urang awak.

“Sabanta lah Umi, caliak piti dulu yo. Kalau kalua invoice beko,” saya tidak enak ngomong terus terang kalau uang saya sudah habis untuk biayai perjalanan #1000kmJKW lintas Sumatera.

Ummi memang sabar sekali. Sudah lama dan mungkin dia hampir lupa dengan requestnya itu. Saya juga mungkin sudah lupa berniat membuatkan spanduk.

Sampai akhirnya invoice cair. Lumayan ada sedikit rezeki untuk mengabulkan permintaan Ummi Nurul. Spanduk GARUNDANG terpampang besar di dalam rumahnya dan ia girang sekali seperti kembali ke masa anak-anak melihat spanduk 4 meter memenuhi dinding rumahnya.

“Maaf yo, Ummi ndak bisa baragiah piti,” sebutnya mohon pengertian, dan tentu saja saya maklumi. Ummi dan Pak Nurul sudah sangat tua. Mereka pensiunan dari Kemensetneg dengan gaji secukupnya. Tapi Ummi selalu berbagi jika sedang berpunya. Terakhir saat memulai trip sumatera #1000kmJKW, ia turut menyelipkan bantuan uang kertas merah beberapa lembar.

Ummi memberikannya soalnya bangga sekali karena baru pada masa Jokowilah pensiunan PNS mendapat kejutan di Hari Raya Idul Fitri. Selain itu rumahnya juga dibantu untuk disertifikatkan pada masa Jokowi, sehingga rumah dinas yang telah secara sah dia dapatkan dari negara punya status hukum yang kuat untuk dimiliki.

Terharu sekali saya. Ummi adalah bagian dari beberapa orang kerabat yang ikut membiayai perjalanan ini.

“Akan dipakai sebaik-baiknya, Ummi,” janji saya.

hariadhi1

Maka tiap kali saya balik dari trip Sumatera dan trip Jawa-NTB, Ummi adalah salah satu yang paling awal yang saya ceritakan kisah saya di perjalanan yang berat dan menantang. Termasuk sakit dan sulit digerakkannya kaki ini sehabis menyetir panjang. Selain pembicara yang baik, ia juga pendengar yang telaten.

Meskipun tiap hari puasa dan iktikaf dari subuh sampai ba’da Isya di masjid, Ummi tak pernah ketinggalan berita soal Jokowi dan Ahok. Ia juga sangat hobi membaca. Ruang tamunya penuh dengan lemari dan buku. Bukan sekedar agama, tapi juga berbagai jenis bidang ilmu. Mulai dari buku agama, seni, budaya, sampai buku politik serius macam Madilog Tan Malaka dan Das Capitalnya Karl Marx. Sehingga jadilah Ummi ini asik diajak ngomong apapun, selalu nyambung. Figur nenek dan Ibu yang luar biasa untuk para relawan. Mau diajak ngobrol ideologi nganan bisaa.. mau ngiri juga bisa..

Omong-omong mau diapakan dan dibuatkan apa ini Posko Garundang? Mau kampanyekan Jokowi – Ma’ruf Amin seperti apa? Ummi pun bertanya mau buat apa nanti posko ini.

Jawabannya, “Kita tidak akan berkampanye, Ummi. Sama sekali.”

Lho kok bisa? Ya bisa, karena Pakde Presiden Joko Widodo pun jarang mengkomunikasikan sesuatu secara hard selling. Saat ia memindahkan pedagang Banjarsari ke Pasar Notoharjo yang lebih rapi, yang ia lakukan bukanlah mengirimkan surat penggusuran. Namun mengajak makan pedagang sampai puluhan kali. Tak pernah sekalipun ngobrol soal penggusuran. Sampai mereka sadar sendiri untuk pindah.

“Nah Itu juga yang akan kita praktekkan di Posko Garundang ini, Ummi,” usul saya. “Selama musim kampanye, kita sama sekali tidak akan mengajak orang memilih Jokowi. Namun cukup mengajak mereka makan dan diberikan informasi kinerja Jokowi. Tapi soal nanti mereka di bilik pencoblosan mau pilih siapa, itu terserah mereka saja.” Ummi mengangguk-angguk mendengar penjelasan saya.

Cara kita memberi makan adalah seperti event #3lauk10ribu yang sudah berkali-kali dibuat dengan sukses dan berhasil memberi makan ribuan orang sekaligus memberi upah kepada pemasaknya. Kita mintakan kepada donatur, sebesar kelipatan Rp 10 ribu per kepala yang akan diberikan makan, lalu selisih budget real untuk membeli bahan dengan besarnya donasi akan menjadi semacam upah bagi ibu-ibu pemasak.

lombok2

“Cari ajo ibu-ibu di sekitar siko yang hidupnya kesulitan Ummi. Awak belikan bahan makanan, dia yang masak dan kita bayar. Supayo indak kewalahan, relawan kita diwajibkan bantu. Kopi pun gratis, nanti Ari sumbang saja 1 kilogram tiap kali pertemuan. ”

“Lalu nanti perlu dibelikan piring? Banyak sekali perlu piring melaminnya. Atau kotak kertas? Dibuat nasi bungkus?”

detik.jpg

Sumber gambar: detik

“O tantulah indak…” Saya langsung teringat saat masa kecil dulu. “Kita Orang Minang kan punya tradisi makan bajamba yang sudah lama hilang. Itu saja yang kita sajikan.” Makan bajamba berarti makan dari satu nampan besar bersama-sama. Tradisi ini merekatkan dan menghangatkan suasana di dalam sebuah keluarga besar. Kalau tak ada piring besar, pakai daun pisang pun boleh, seperti yang dipraktekkan para pengungsi di Bayan, Lombok.

 

bayan

Nah yang kita lakukan adalah merekatkan para pendukung Jokowi yang keturunan Minang, sekaligus mendekatkan mereka dengan orang-orang susah yang juga akan kita undang makan. Contohnya anak yatim, janda-janda tua, atau fakir miskin.

“Syukur-syukur kalau akhirnya nanti Pakde mau datang dan berkunjung. Langsung saja Ummi ajak makan bajamba bersama-sama warga Minang yang selama ini mungkin banyak curiganya dengan beliau,” saran saya.

 

Muka Ummi cerah, ia senang sekali membayangkan rumahnya akan ramai dengan dunsanak. Tapi ia masih ragu apa ia akan sanggup menemui mereka semua. Saya menjawab, “Ndak paralu Ummi. Ummi tetap konsentrasi iktikaf dan mengaji. Kalau Ummi sesekali ada tenaga dan waktu menemui relawan, Ummi berikan pencerahan kepada kami semua sembari makan. Orang paling mudah diberitahu dan terbuka akal pikirannya dalam keadaan kenyang. Kelaparan itu sumber hasud dan benci.”

Tapi masih ada satu lagi pertanyaan dari Ummi. “Tapi Ummi ndak sanggup lah ya beli bahan makanan untuk orang sebanyak itu.” Saya ketawa.

“Oh yo ndak paralu khawatir Ummi. Saya yang akan carikan..”

Nah itulah PRnya.. Mencarikan donatur yang sanggup memberikan modal untuk memberi makan beberapa ratus orang dikali sekian banyak hari menjelang pencoblosan nanti. Kita membutuhkan donatur yang serius sekitar beberapa puluh juta (tentu saja tidak harus semuanya ditanggung satu orang, lebih baik lagi kalau saweran).

Saya jamin biayanya sangat murah dan efektif efisien. Hanya Rp 10 ribu per kepala untuk memberi makan orang-orang tidak mampu dan pendukung Jokowi dari Minang. Sama sekali tidak ada kampanye untuk mengajak memilih Jokowi, namun di Posko Garundang ini akan kita buat berbagai poster dan leaflet infografis pencapaian kinerja pemerintah selama 4 tahun terakhir. Sisanya, biarkan mereka mau memilih boleh, mau tetap kekeuh coblos Prabowo-Sandi juga silakan.

Ayo, ada yang tertarik? WA saya di 081808514599

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: