Cerita Dendeng Vegetarian dan Fitnah 1000 Rumah Gadang

Scroll down to content

Solok Selatan

Lepas dari Sungai Penuh di Kerinci, destinasi #1000kmJKW bersama Tommy Bernadus selanjutnya adalah Solok Selatan. Ya! Setelah jalan berliku-liku menyeberangi bukit barisan, kita akan disambut budaya minang yang kental, bahkan bisa dibilang termasuk yang tertua, karena di sinilah tersimpan warisan luar biasa orang Minang, 1000 Rumah Gadang.

Di telinga saya sudah berdentang bunyi backsound lagu Sengsara Membawa Nikmat waktu Midun lagi bermain pencak silat… Ting ti ding ding ti di ding ting ting..

Hampir malam saat saya sampai di Solok Selatan. Setelah buang air secukupnya di dekat kantor Bupati, dan Tommy foto-foto di sana, kami baru sadar kalau kelaparan. Maka makanlah kami berdua di rumah makan sederhana sekali di Solok Selatan menjelang Danau Atas. Etapi bukan RM Sederhana yang harganya ga sederhana itu ya, hahaha. Rumah makan yang lebih tepat dijuluki warung ini dimiliki Ibu Tin. Mungkin kalau di Jakarta, setara warteg.

Kami memesan makan dengan lauk secukupnya dan makan. Walau menunya sederhana makanan rumahan orang Minang, tapi rasa beras solok memang tiada bandingannya. Tommy sampai nambah dua kali. Entah karena lapar atau memang enak. Padahal lauknya sederhana saja, ayam balado.

Banyak orang tidak mengerti soal masakan minang. Sebenarnya yang terpenting itu bukanlah masakan bersantannya, namun beras yang tidak terlalu pulen, tapi juga tidak kering. Kalau kita bilangnya badatuih, alias keliatan masak di luar, tapi di dalamnya keras saat digigit. Itu hasil dari cara memasak nasi yang salah dan sumber beras yang ga keruan kualitasnya. Banyak rumah makan padang yang tak laku, diboikot pengunjung, dan akhirnya tutup karena berasnya yang dicap tidak enak, bukan lauknya.

“Enak! Beras Solok emang enak banget,” kata Tommy menyendok nasi tambah selanjutnya.

dendeng.jpg

Balik ke Bu Yenofrida, alias Bu Ida, ternyata dia punya jurus rahasia lain, hehe. Itu adalah dendeng! Tapi berbeda dengan dendeng batokok yang nikmat di Sungai Penuh, Kerinci, di sini Bu Ida mengembangkan dendeng vegetarian, yang berasal dari daun ubi. Ibu Ida berkeras menamainya dendeng daun ubi, tapi saya menyarankan, kalau ingin laris dijual ke Ibukota, lebih baik pakai nama vegetarian. Lagipula keuntungannya bagi kesehatan sangat jelas.

“Dendeng ini dibuat supaya kita mengurangi makan daging, sehingga tidak ada hipertensi, kolesterol, dan berujung sakit jantung atau stroke. Bahan-bahannya alami, tanpa campur tangan zat kimia.”

Tapi saya sedikit memberi warning bahwa dendeng daun ubi tetap pakai sedikit saja telur dan tepung untuk adonannya, supaya tetap renyah, merekatkan serat daun ubi, dan supaya rasanya enak, tidak seperti makan daun ubi layaknya mbek. Namun porsi telurnyanya sedikit saja, tidak terlalu kentara di rasa dendeng vegetarian ini secara keseluruhan. Sisanya ya dedaunan yang kaya serat. Mungkin untuk yang sudah level vegan akan sulit menerima daging-dagingan ini. Namun untuk vegetarian yang tidak berpantang telur, boleh tetap mencoba. Screen Shot 2018-09-25 at 9.47.14 AM.png

Bagaimana bisa seorang dari Solok Selatan yang tidak seramai kota besar, seperti Ibu Ida, bisa membuat inovasi seperti ini? Ternyata dia seorang mantan perantauan. Sebelumnya ia aktif berdagang di Jakarta, layaknya juga orang Minang lainnya yang berjiwa perantau.

“Lho sudah maju di perantauan, ngapain pulang lagi ke kampuang, Bu?” Tanya saya.

“Ya udah tua, inginlah kita menghabiskan waktu di kampung halaman,” jawabnya. Ya, rata-rata begitulah watak Orang Minang. Bekerja keras di negeri orang, untuk nanti pensiun kembali ke kampungnya, menularkan virus kemajuan yang didapatnya di negeri orang lain. Merantau untuk membangun nagari kembali. Sambil sesekali mengurusi bisnisnya, Bu Uda jadi merasa penting sekali akses bagus ke bandara, yang dibangun Pak Jokowi melalui kereta bandara Minangkabau.

“Buat kami yang harus promosikan produk ini ke mana-mana, kereta bandara itu memudahkan sekali. Jadwalnya teratur, tanpa macet, dan bayarnya cuma 10 ribu pula, kan?” Ibu Ida meyakinkan saya bahwa memang kereta bandara membantunya untuk tetap mobile walaupun dari kampung. Ia berharap Pak Jokowi tidak berhenti membangun jalur kereta bandara sampai ke Kota Padang saja, tapi diteruskan hingga ke pelosok Sumatera Barat seperti Solok Selatan, sehingga membantu ia berbisnis.

“Dendeng vegetarian ini sudah banyak pelanggannya dari berbagai provinsi. Alhamdulillah pemerintah daerah sekitar peduli dan selalu mengajak kami berkeliling untuk pameran dan berjualan.”

Entah dia akan memilih siapa saat Pilpres nanti, tapi yang pasti Ibu Ida jujur merasakan banyak sekali perubahan di bawah pemerintah Jokowi. Yang paling menyentuh kehidupan dan budaya mereka salah satunya adalah Program Rehabilitasi 1000 Rumah Gadang.

Memang kawasan wisata 1000 Rumah Gadang sendiri dicanangkan oleh Ibu Mutia Hatta saat menjadi menteri perempuan pada masa pemerintahan SBY. Bahkan kita bisa ikut menginap dengan sistem homestay di sini. Namun perlahan rumah-rumah itu lapuk dan dimakan usia. Sebab kebanyakan rumah gadang di Sumatera Barat dulunya memang dibangun dengan papan dan beratap ijuk. Maka kini waktunya merenovasi rumah-rumah itu, setelah sekian lama kita menarik benefitnya untuk pariwisata.

Karena itu pada pemerintahan Joko Widodo, dicanangkan renovasi sekitar 138 rumah gadang ini melalui program di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pimpinan Bapak Basuki Hadimuljono.

“Sayangnya saat ini pembenci menularkan isu bahwa perbaikan rumah gadang itu akal-akalan pemerintah untuk menguasainya. Padahal harusnya rumah gadang itu milik kaum, tidak bisa dikuasai pemerintah. Akibatnya banyak yang ragu untuk mempercayakan perbaikannya kepada pemerintah. Padahal itu program yang bagus sekali.” katanya berharap pesan ini disampaikan ke Pak Presiden. Betul, sayang sekali kalau program sebagus dan sebermanfaat ini lalu gagal hanya karena mulut yang tak bisa diatur untuk menyampaikan kebenaran.

“Baik Bu, akan saya coba. Kapan-kapan kalau ada kesempatan akan saya sampaikan ke Bapak. Tapi ga janji ya,” Ya, ke manapun saya berjalan, apapun keluhan dan pesan yang dititipkan rakyat untuk Pak Jokowi, tapi untuk menjanjikan pasti ada solusinya, saya tak berani. Bagus kalau ada kesempatan bicara ke Pak Presiden kita. Kalau sudah mendengar biasanya ia tak sulit untuk mengabulkan, asalkan memang masuk akal. Tapi untuk bisa terus-terusan bertemu dan menyampaikan aduan, tentu tidak bisa.

Dari Bu ida pula saya temukan bahwa tidak semua orang Minang membenci Jokowi. Justru salah satunya di Solok Selatan inilah banyak yang merasakan manfaat dari pemerintahan ini. Setidaknya jalan mulus, sertifikat tanah, dan nantinya tol Sumatera akan ikut dinikmati oleh mereka. Sebab selama ini memang Bareh Solok itu, seperti lagunya, adalah bareh tanamo, alias beras ternama. Orang-orang minang yang ada di perantauan pasti merindukan rasanya yang manis, bertekstur, namun tidak lembek seperti umumnya kita temui dari beras pulen di Jawa.

“Kalau orang di sini tidak banyak pembenci. Mereka sadar pembangunan yang dilakukan Pak Jokowi,” ujar Bu Ida meyakinkan. Tapi soal siapa yang dipilih nanti 2019, tentu itu mesteri di kotak suara. Siapa yang bisa tahu?

Tapi saya senang bahwa orang-orang Minang yang merantau seperti Bu Ida punya pikiran terbuka. Tidak pun memilih Jokowi, ia mengapresiasi apapun yang dilakukan pemerintah untuk perhatikan Sumatera Barat dan orang Minang. Tugas kitalah, relawan-relawan minang yang merantau di Jakarta, untuk membantu meyakinkan saudara-saudara kita di kampung halaman sana.

rumah gadang 2.jpg

Terima kasih, Bu Yenofrida!

Disclaimer:

  • Beberapa dialog berubah tanpa mengubah makna sebenarnya, agar tidak ada pihak yang tersinggung atau merasa terganggu setelah membaca tulisan saya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: