Kopi Kawa Daun, Simbol Perlawanan Urang Awak terhadap Penjajahan Asing #1000kmJKW

Scroll down to content

marning2.jpg

Sebagai orang Minang, berkelana di Bumi Andalas membuka berbagai pemahaman akan budaya di Sumatera, termasuk kerasnya perjuangan orang sini dalam bertahan hidup, dibanding kita-kita yang tinggal di Jawa. Salah satunya adalah Kopi Kawa Daun.

Bagi pecinta kopi serius, Sumatera Barat bukanlah produsen kopi yang terlalu enak. Banyaknya gunung api dan pemandian air panas, sumber belerang di sini membuat kopinya pun kalau dirasa dan dipikir agak bau lumpur. Itu selalu dikeluhkan teman-teman saya yang baru saja mencicipi kopi Sumatera Barat. Kecuali satu jenis kopi, Kopi Padusi yang sampai saat ini masih saya cari sumber petaninya. Tapi saat mencicipi di Klinik Kopi Jogja, rasanya luar biasa.

Kalau dipikir-pikir, kopi adalah simbol perjuangan, sebuah gelora anti kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme. Di Banten, misalnya, Kopi dari lebak adalah sumber inspirasi buku Max Havelaar, karya Multatuli.

Lalu bagaimana dengan orang Minang? Kok kopinya kurang enak dan mendunia? Apa ternyata Orang Minang kolaborator kumpeni keparat?

Tunggu dulu.. Kopi yang lebih tepat dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah di ranah minang bukanlah benar-benar kopi. Ia sebenarnya teh yang sejatinya juga kopi. Justru karena wujudnya itulah ia menjadi simbol dan cerminan karakter orang Minang yang selalu melawan penjajahan dengan cerdik.

“Taimpik nak di ateh. Takuruang nak di lua,” itulah prinsip hidup orang Minang yang diwujudkan dalam bentuk kopi kawa daun ini. Maksud peribahasa ini adalah untuk bisa hidup, Orang MInang selalu memanfaatkan setiap kesempatan dan alternatif yang tersedia. Karena itu dalam keadaan sesulit apapun, kita selalu bisa menikmati hidup.

kawa daun 3

Itulah kopi kawa daun. Dilarang menikmati biji kopi oleh Belanda, Orang Minang punya cara untuk mengakalinya, minum saja daunnya!

Daun kopi tetap mengandung kafein, dan berbagai getah yang membentuk rasa kopi. Hanya saja rasanya tidak sekuat biji kopi yang disangrai. Karena itulah kopi ini harus dijemur sangat lama, lalu diasapi selama beberapa hari untuk membangun rasanya.

kawa daun 2.jpg

Tidak sulit mencari pondok-pondok kecil tempat meminum kawa daun di jalan dari Payakumbuh menuju Batu Sangkar. Biasanya pondok ini dibangun di lereng bukit, disantap bersama gorengan berminyak dengan ukuran besar-besar. Tahu isinya saja bisa seukuran kepalan tangan! Belum lagi sala nya bisa dua kali lipat dari ukuran sala di Pariaman. Setelah makan gorengan, lalu kawa daun diseruput dari tempurung kelapa, slurpt.. hmmm enaknya di tengah hawa perbukitan yang sejuk. Dari sungai kecil di sekitar, terdengar gemericik air mengalir. Tenang sekali…

Iseng saya tanya kepada yang menjual, “Iko dijual bungkusan ndak Pak?” Sebenarnya sih saya yakin tidak, karena pondok ini hanya sediakan kawa yang sudah jadi. Tapi namanya juga Orang Minang, senang kalau ada kesempatan manggaleh. “Mau ambil berapa banyak?” Tanya Pak Iskandar, bukan nama sebenarnya, pemilik pondok kopi daun tersebut. Saya tanya berapa harga sebungkusnya, karena khawatir mahal. “Rp 10 ribu sebungkus, bisa kita siapkan kalau memang serius,” lalu deal. Saya ambil 10 bungkus.

Saya pikir bungkusannya itu kecil seperti bungkus teh. Ternyata plastik sebesar pelukan orang dewasa hahaha. Jadilah dapat kawa daun dengan harga murah meriah. Beruntung tadi saya beranikan diri bertanya, walaupun seperti saat nyeruput kawa daun, terdengar pembicaraan di sekitar sini rada-rada pro Prabowo. Hahaha.

beli.jpg

Ternyata Pak Iskandar juga ramah. Walau seisi pondok itu sibuk membicarakan Prabowo, dia membolehkan saya, yang jelas-jelas memakai kaos dengan tulisan JKW begitu besar, berfoto bersama dengan penuh senyuman. 10 bungkus kopi kawa daun masuk ke bagasi mobil. Lalu saya meluncur ke Sawah Lunto, tempatnya pertambangan batu bara di masa lalu, yang kini jadi objek wisata kota tua. Wussss…

“Kalau yang dibawa dari Batu Sangkar ini kurang mantap. Kami di Kerinci agak lebih lama mengasapi daunnya, sehingga rasanya jadi tebal dan berat.” Kata salah seorang pedagang di Kayu Aro, Kerinci, sekitar 4 jam dari Sawah Lunto. Ternyata tiap daerah pun punya standar rasa dan pengolahan daun kawa tersendiri. Orang Kerinci, walaupun secara geografis masuk Provinsi Jambi, masih merasa bangga menjadi bagian dari keturunan Minang, mirip dengan orang Bangkinang di Riau.

Dari mereka jugalah saya dapatkan informasi mengenai Kopi Kayu Aro Arabica. Sayang waktu saya tidak banyak untuk hunting kopi tersebut. Jadilah hanya kopi robusta setempat yang bisa saya dapatkan. Rasanya? Jangan tanya.. mirip juga dengan Kopi Sumatera Barat. Bau belerangnya masuk ke kopi. Buat yang bosan dengan kopi-kopi mahal, mungkin mencoba kopi Kerinci di tengah dingin menusuknya angin di Gunung Kerinci bisa jadi pengalaman baru. Tapi kalau dalam keadaan normal di Jakarta, saya coba seruput kopi kerinci robusta, ya gitu deh…

Puas menikmati kopi kerinci, saya ke Semurup, sekitar 3 kilometer dari Danau Kerinci. Di sinilah harta karun Gunung Kerinci sebenarnya, pemandian air panas! Sejak zaman Jokowi, pariwisata di sini mendapat perhatian lebih. Tidak seperti pemandian air panas di Indonesia pada umumnya, di sini cukup terawat, dan kita dibebaskan berendam di kolam ukuran kecil yang tersedia.

Rasanya? Rileks.. cukup hangat untuk kaki saya yang mulai membengkak karena kelamaan nyetir. Mungkin tiga jam saya habiskan di sana sekedar untuk memanjakan diri, dengan biaya Rp 5000 saja! Lalu paginya berkeliling menyaksikan pembuatan jagung marning. Marning ini semacam pop corn yang direndam seharian di air belerang, sehingga jadi lunak dan hangat mengepul. Lalu langsung diberi bumbu dan digoreng. Rasanya enak sekali, beda dengan marning yang biasa kita beli di minimarket. Karena airnya mengalir terus menerus, warna marningnya jadi kuning cerah dan bersih, bukan kecokelatan. Berapa penghasilan warga dari memproduksi marning? “Ya adalah 60 jutaan setahun, Pak….” jawab mereka jujur. Luar biasa..

Turun dari Semurup, saya melewati Danau Kerinci kembali sebelum berputar ke arah Tapan, Sumatera Barat. Saya jadi teringat kembali wawancara saya dengan Bu Darniar, petani di lahan padi di sekitar tepian danau. “Alhamdulillah kalau pertanian kita banyak sekali dibantu pada masa pemerintahan ini, mulai dari pupuk, benih, obat-obatan. Kalau sakit berobat di Puskesmas juga gratis,” kata Bu Darniar memberikan kesaksian. Namun dia berharap mendapat bantuan bedah rumah dari Pakde Jokowi. Semoga saja dikabulkan ya Bu, doa saya.

Ya, seperti juga Solok Selatan, warga keturunan Minang di sini juga cukup ramah kepada Jokowi. Seperti juga cerita Bu Ida kemarin, mereka mengakui memang Jokowi banyak kinerjanya dan memberi bantuan. Bahkan Bu Ida ini yang berteriak mendukung Pak Jokowi dari kejauhan saat saya berangkat.

Alhamdulillah, saya pikir, tidak semua keturunan Minang yang memusuhi Jokowi. “Saya ini kader PDIP, dan kalau di sekitar saya Insya Allah pilpres kemarin cukup kuat kita di sini,” kata Bapak pedagang pendukung Jokowi di Kayu Aro saat kemarin beranjak turun ke arah danau. Sambil bercerita mengenai dukungan atas Jokowi di Kayu Aro, kami menikmati hangatnya kawa daung yang menghangatkan badan. Tentu saya tidak sempat mengecek klaimnya tersebut. Semoga saja memang terjadi, suara Jokowi cukup kuat, dan kembali terulang tahun 2019 ini.

Amin…

 

*Tulisan ini sudah dimuat di Seword

** Tidak semua cerita dan kutipan ditulis apa adanya. Beberapa diedit dan ada nama yang disamarkan untuk kenyamanan baca dan menjaga keamanan narasumbernya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: