Ada Cinta di Secangkir Kopi

Scroll down to content
cinta.jpg
Beberapa waktu lalu saya sempat ngejoke soal mba-mba cantik yang berantem di parkiran dan ingin saya berikan kopi Cinta. Cerita itu setengah tidak serius, tapi soal kopi Cinta itu serius lho.
 
Hah? Hariadhi mempertimbangkan diri membuka hati ke wanita lain?
Hahaha, tentu saja bukan. Kopi Cinta ini benar-benar bernama Cinta, dan mungkin akan jadi ngetren kalau melihat dari segi branding namanya saja. Bukan maksud saya menyatakan cinta lewat kopi, tapi kopi yang diproduksi oleh petani di Desa Cinta.
 
Emang ada ya Desa Cinta?
 
Jadi begini… Awal dari cerita ini adalah pertemuan saya dengan Kang Budi Etnik di Bandung. Waktu itu saya sedang iseng meneruskan tur #1000kmJKW bersama dua wanita cantik, Uni Eli dan Mba Ika Harlein. Setelah mendokumentasikan jalur kereta layang LRT Bekasi – Jakarta dan jalur tol tingkat Jakarta Bandung yang pembangunan fisiknya dimulai sejak Jokowi memimpin, kami bertiga segera menuju Bandung, menghadiri pertemuan Teman Jokowi Bandung.
 
Sambil sharing mengapa sebaiknya orang Jawa Barat, yang pasti mayoritasnya saat pilkada kemarin memilih Ridwan Kamil, harus juga mendukung Jokowi, saya bercerita pula perjalanan saya berburu relawan pendukung Jokowi di daerah. Lalu iseng saya ajak Kang Budi Etnik yang juga ternyata sesama pecinta kopi. Saya tanyakan apa kopi primadona di Jawa Barat.
 
“Wah kalau itu teh harus coba Kopi Garut,” jawab Kang Budi sambil mengacungkan jempolnya. Ngobrol berempat dengan Uni Eli dan Ika, kita ngalor ngidul seperti orang mabuk masalah kopi. “Kopi itu sejarahnya sangat religius.” kata saya. “Orang Eropa cenderung menggunakan wine sebagai minuman ritual mengiringi ibadahnya.” Jelas saya. Mereka menatap saya serius dan mengangguk-angguk. “Tapi sebaliknya dengan muslim yang menjadi saingan mereka di Jazirah Arab dan Afrika Utara, lebih memilih kopi, alias wine hitam, untuk mencapai kondisi sadar dalam beribadah. Sementara wine sendiri di dunia barat cenderung membuat badan hangat, mengantuk, dan rileks. Para sufi menggunakan kopi untuk membuat mereka tetap bertahan dalam kondisi trance untuk beribadah di larut malam.”
 
Ya, dan kenyataannya memang kopi sempat dilarang di Eropa karena dianggap minuman setan. Lebh tepatnya sih ketakutan dengan pengaruh Budaya Islam dari Arab merusak kekuasaan mereka.
 
Tapi petunjuk yang diberikan Kang Budi Etnik membuat saya tercenung berpikir untuk melanjutkan perjalanan ke Garut. Sayangnya Uni Eli dan Ika pada waktu itu harus buru-buru diantarkan pulang. Mereka punya aktivitas lebih lanjut.
 
Hasrat berburu Kopi Garut sempat terlupakan saat saya melanjutkan perjalanan #1000kmJKW ke arah Semarang, Jogja, Banyuwangi, dan akhirnya NTB. Atas request Mas Kokok Dirgantoro, caleg sugih, yang menumpang dan ikut patungan biaya perjalanan, Saya melewati jalur Utara, melewati Cirebon, Brebes, Semarang, dan akhirnya Jogja. Selama perjalanan saya menemui kopi Srintil dari Temanggung, Jawa Tengah yang wanginya luar biasa unik, dan Ijen, yang rasanya cukup berat untuk peminum kopi pemula. Namun keduanya enak sekali. Apalagi setelah mencoba sendiri kopi luwak Ijen, yang kemarin saya post fotonya saat diroasting. Luar biasa wangi seperti bubuk kedelai!
 
Tapi ya sayangnya, sekembali dari Lombok pun, saya melewati lagi jalur utara, karena perhitungan di Google Map lebih singkat perjalanannya. Sementara saya harus mengejar deadline laporan di Jakarta. Kopi Garut pun terlupakan.
 
Tapi saya masih belum menyerah dengan tuntutan deadline dan reporting pekerjaan. Maka sambil bekerja, sesekali browsing mengenai kopi Garut. Beberapa kali searching saya menemukan ada empat sentra kopi Garut, ada dari Papandayan, Cikujang, Cikuray, dan Telaga. Semuanya daerah pegunungan yang mengelilingi Kota Garut.
 
Maka kemarin saat menemui salah satu klien sambil menerima brief menulis, saya menyempatkan diri mampir ke Garut. Toh lokasi rumahnya juga di sekitaran Bandung Selatan, tinggal sepenggalan galah dari Garut. Sudah larut, tapi saya pikir ga masalah karena di Google Map
 
“Kamu masih mau ke Garut lagi malam ini?” Kata si Mas Dirut BUMN itu, keheranan, sebab ini sudah nyaris 3 hari full saya jalan keliling Jawa Barat, sekalian mencari sumber inspirasi tulisan. “Ya kalau ga sekarang, mungkin ga bisa kekejar di lain hari, Mas. Mumpung lagi ke Bandung dan sendirian,” Tanpa saya sadari sudah 72 jam kekurangan tidur dan kelelahan. Saya mengangguk pasti. Karena saya selalu yakin kesempatan menemukan kopi enak dan unik hanya sekali sumur hidup, dan saya punya insting kalau ke Garut sekarang pasti akan bertemu kopi unik.
 
Tapi kok ya setelah dijalani, saya ngga sanggup. Nafsu gede tenaga kurang hahaha. Maka mau tak mau saya tertidur di rest area beberapa kilometer dari pintu tol Kopo. Badan tidak bisa bohong, memang.
 
Bangun tidur, sarapan, dan menyeruput air mineral dingin, saya melanjutkan sambil bernyanyi keras mengusir kantuk ke Garut. Sudah sekitar pukul 11:00. Masih ada waktu untuk jalan-jalan di sekitar Garut. Dan saya pikir ngapain juga saya ke sentra kopi yang sudah dikenal orang.
 
Maka saya berkeliling pinggiran Garut, mencari-cari di mana perkebunan kopi yang tidak biasa. Yang kira-kira petaninya masih kesulitan dan perlu dibantu Tapi sayangnya nihil.. Saya cuma nemu satu petani yang menjadikan kopi cuma sampingan, robusta pula. “Udah dipanen, Pak. Buat konsumsi sendiri ajah, sakieu… ” Katanya sambil melambangkan jumlah sedikit dengan tangan. “Kalau gitu ada tidak tempat orang menanam kopi arabica dekat di sini?” Tanya saya. Ia menyuruh saya putar balik dan pergi ke gunung yang tidak biasa.
 
“Nanti habis dari pasar teh, bapak belok kiri. Naik aja terus ke atas,” katanya. “Yakin di situ banyak?” Tanya saya menyelidik. Habis penjelasannya kurang meyakinkan. Dia sendiri juga ragu. “Kalau yang banyak mah Cikuray atuh Pak. Atau Cikajang…” “Yah Pak saya ga cari yang sudah populer, tapi yang masih jarang orang tahu,” jawab saya sambil menikmati sampel semangka inul yang ditawarkan. “Ya kalau gitu bapak ke pasar tadi, belok kiri sebelum kota, naik ke atas.”
 
Terlanjur basah sesat di negara orang tanpa tahu harus ngapain, saya ikut saja sarannya setelah membeli 4 kg semangka inul yang ditawarkan. Anak saya, Aida, senang semangka. Dan semangka ini manis walaupun tidak bulat seperti biasanya, cenderung kecil lonjong. Tapi manis dan berair. Bodinya melengkung mirip penari dangdut. Tidak heran namanya Inul. Saya ingat Mas Kokok Dirgantoro pernah bercerita semangka ini sekilas dulu. Ternyata benar enak seperti ceritanya.
 
Lepas dari pasar, saya naik ke gunung yang belum banyak dikenal ini. Tak tampak ada kantor RW, RT atau kelurahan saat naik. Bahkan warung kopi untuk rehat sebentar dan ngobrol juga nyaris tak ada. Adanya cuma rumah, warung kebutuhan sehari-hari, kebun, dan masjid.
 
Dan yang lebih aneh, tak secuil pun saya lihat kebun kopi. Adanya sawah, sawah dan sawah. Hahaha. Menyesal juga rasanya mempercayai petani di bawah tadi. Tapi sudah kepalang tanggung, sebentar lagi Magrib, dan kalau pulang sekarang pun tak akan terkejar lagi ke Jakarta. Paling juga sampai tengah malam dan saya juga tidak bisa mengejar deadline apapun.
 
Seperti juga di jalur tengah Takengon, Aceh, saya melamun panjang, mengikuti saja jalur sempit selebar satu mobil hingga ke arah puncak gunung. Sampai akhirnya kelihatan papan petunjuk arah. Ada berbagai nama desa yang tertulis di situ, tapi yang kelihatan jelas dan membuat mata saya terhenti, adalah satu nama desa, Desa Cinta.
 
Dan seperti biasanya, insting saya mengatakan saya harus terus bersabar naik terus ke atas tanpa henti, walaupun beton jalananya mulai banyak yang ambrol, tanda saya akan segera masuk daerah terpencil di tengah gunung. Tapi luar biasanya, sinyal di sini masih saja 4G. Masih sempat saya mencari dan menyimpan posisinya di Google Map.
 
Dan betul, insting itu mengantarkan saya kepada seorang Kakek bernama Pak Yoyo. Agak bungkuk dan ringkih, ia membawa tanaman kecil yang samar-samar mengingatkan polybag yang dulu sering dibawa orangtua saat mulai belajar berladang di Sumatera.
 
“Itu pohon apaan Pak?” tanya Saya sambil membuka jendela pintu kiri mobil/ Dan yak, benar, ia lalu menjawab, “Ini teh Kopi… Buat ditanam di sana.” katanya menunjuk lagi terus ke arah atas. Luar biasa Pak Yoyo, dengan umur segitu tua, masih bahagia membawa tanaman itu ke puncak gunung. “Bapak petani kopi?” Ia menjawab dengan anggukan mantap tanpa ragu.
 
“Wah kebetulan Pak, saya beli kopinya boleh tidak?” Ia bengong. Mobil LCGC yang harusnya tak kuat naik gunung, datang jauh-jauh cuma untuk beli kopi. “Ya boleh, nanti saya antarkan ke atas. Ada penjualnya.”
 
Saya awalnya menolak berhubungan dengan pengepul atau tengkulak. Karena masih ingin terus membeli langsung dari petani. Namun Pak Yoyo terus memaksa saya ke atas. Sampailah kami di rumah Pak Wawan, yang ternyata juga sesama petani. Bedanya ia juga mengabdi sebagai PNS. Sambil melayani masyarakat, ia juga mengelola kebun kopi, dan aktif membina petani sekitar. Luar biasa…
 
“Alhamdulillah, kami mengelola tanaman kopi di hutan di sekitar,” Saya tertarik. Tampaknya yang dimaksud oleh Pak Wawan ini adalah hutan sosial yang kebijakannya diluncurkan sejak kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Dan saat saya mengkonfirmasi, ia dan istrinya mengangguk. Ternyata warga, dengan kearifan lokalnya, diberi kesempatan mengelola hutan di sekitar untuk ditanami kopi, labu, dan tanaman lainnya, berdampingan dengan pepohonan lebat di puncak Gunung, di sekitar Desa Cinta. Tentu dengan tidak merusak hutan tersebut.
 
Soal hasilnya? “Alhamdulillah, lahan saya 4 hektar bisa hasikan 4 ton. Pak Yoyoy kelola sekitar 2 hektar, jadi bisa dapat 2 ton kopi. Banyak sekali, saya tidak yakin. Tapi asumsikan saja dulu benar. Maka kalau kita ikuti rata-rata harga green bean di Jakarta yang sampai di atas Rp 100 ribuan lebih per kg nya, harusnya mereka ini kaya raya.
 
Sayangnya belum.
 
Setelah saya cek, harga berry, buah kopi yang belum dikupas dagingnya, masih di level ribuan per kilogram. Lalu Bu Wawan memperlihatkan hasilnya jemurannya. Putih kekuningan dengan biji yang besar-besar. Sempurna. “Ini baru gabah,” katanya. Lalu dengan bangga ia menyebut angka sekian puluh ribu. Tak enak saya sebutkan di sini karena kasihan sekali sebenarnya kopi bagus begitu murah. Saya cek apakah mereka mampu menghasilkan green bean? “Oh beras.. ada di dapur,” sahut Bu Wawan yakin sekali. Lalu ia tunjukkan hasil tumbukan gabah tadi, sudah jadi butiran hijau, yang sayangnya hampir pecah semua. Ditumbuk manual, kata Bu Wawan memberi keterangan cara mengolahnya. Memang sudah benar-benar mirip beras sih, haha.
 
Saya tepok jidat. Seperti ini dibawa ke roaster di Jakarta akan ditertawakan. Nilainya dari puluhan ribu drop ke angka nol. Mereka harus dibina lagi bukan hanya untuk menghasilkan berry berkualitas tinggi, tapi juga mengolahnya menjadi greenbean yang jadi rebutan kafe. Saya tanyakan seperti apa rasanya saat disangrai oleh Bu Wawan.
 
“Asem.. asem banget. Teu berasa kopinya. Ada orang Sumatera pintar gorengnya, baru beneran jadi kopi.” Jawab bu Wawan. Wajar sih, orang Sumatera biasanya senang karakter kopi pahit. Dugaan saya disangrai sampai hangus dan masuk kategori very dark, seperti yang juga saya temukan di Bengkulu, disangrai sampai hitam gelap sekali. Wajar, bagi orang Indonesia, keasaman kopi itu dianggap aib. Musuh bagi pemilik penyakit maag.
 
Padahal justru memang rata-rata kopi di Pulau Jawa punya karakter agak asam. Namun biasanya karena penanamannya didampingi dengan buah-buahan yang tepat di sekitar, baunya juga enak. Fruity, kalau anak-anak muda sekarang menggolongkan rasanya.
 
“Kalau mau yang mendingan rasanya, kita ada kopi luwak, luwak liar,” Kata Bu Wawan mengetahui bahwa dari segi pengolahan ke green bean masih kurang sekali. Ia lalu tergopoh-gopoh membawa berbagai kopi berukuran kecil dan ada motif belang, khas bekas kotoran luwak. “Biasanya pagi ada banyak kotoran luwak berserakan. Tidak kita pelihara, datang begitu saja karena tertarik dengan kopi sini yang bagus-bagus.” Jawab Bu Wawan saat saya tanya apakah luwaknya luwak peliharaan. Ternyata luwak liar.
 
Akhirnya ngobrol punya ngobrol barulah saya tahu, “Ini hasil panen terakhir tahun ini,” Jelas Pak Wawan. “Setelah ini masuk musim hujan. Waktunya kembali memelihara tanaman kopi. Nanti 6 bulan lagi, waktunya panen lagi.”
 
Maka saya berusaha memborong seluruh persedian mereka, tentu juga dengan kondisi dan kualitas seadanya dulu. Yang penting nanti dibawa ke roaster di Jakarta, bisa ketahuan apa kelebihannya dibanding Kopi Garut biasa.
 
Untuk mengurangi rasa asam, saya sarankan warga Desa Cinta mengubah pengolahannya dari semi washed jadi natural. Jadi ada kesan sedikit manis, menutupi keasamannya yang juga berkurang karena tidak melewati proses fermentasi dengan air untuk melepas daging buah dari bijinya. Kopi dijemur dengan daging buahnya sekalian. Hasilnya waktu pengeringan lebih lama, bahkan akan makin lama karena dijemur di puncak gunung yang dingin.
 
Bu Wawan langsung melihat anaknya, tampaknya pernah mencoba proses seperti itu. Dan tebakan saya benar. “Iya dulu pernah dicoba buat seperti itu, memang agak hilang asamnya.” Bagus. mereka mengerti cara menutupi kelemahan kopi yang dihasilkan, dan semoga berakhir dengan harapan naiknya harga biji kopi yang dihasilkan.
 
Pulang, saya borong berapapun kopi yang masih mereka miliki di akhir musim panen kopi ini. Karena biasanya selama hujan tanaman kopi akan mogok berbuah, harus ditunggui lagi memasuki musim kemarau berikutnya. Ada pun berbuah, hasilnya tak akan maksimal. Kecil dan cenderung makin asam mengarah ke kecut karena matangnya kurang sempurna. Biji kopi seperti ini nyaris tak ada harganya karena diroasting pun tak akan matang-matang.
 
Malam menjelang, udara makin dingin, maka saya memutuskan untuk pulang. Saya iseng bertanya, nanti 2019 pilih siapa? Mereka mesem-mesem, “Belum ada pak, rahasia. hahaha.” Jawab Pak Wawan. Tentu saya tidak bisa memaksakan pilihan kalau jawabannya seperti itu. Namun saya tanyakan keluhan mereka dalam mengelola Hutan Sosial, jawabannya simpel saja, pupuk. “Kalau Bapak bisa carikan 2 ton pupuk di sini pasti semua akan senang. Kita akan dukung program hutan sosial ini.” Jawab Pak Wawan memberi isyarat. Tentu saya sendiri tidak berniat “membeli” dukungan mereka. Lagian Pak Wawan kan memang PNS. Sudah sepantasnya ia bersikap netral dan mengayomi seluruh petani yang ia bina. Saya hanya bisa berkata bahwa saya usahakan cari sebisanya. Namun pupuk NPK yang diminta berharga Rp 20 ribu sekilonya. Kalau 2 ton tentunya butuh sekitar Rp 20 juta. Tak mudah mewujudkan permintaan itu, karena itu saya langsung berikan disclaimer bahwa saya belum menjanjikan apa-apa, tapi apapun yang bisa saya bantu akan saya bantu.
 
Pulang dari puncak gunung bersama Pak Yoyo, ia menawarkan kerjasama menggarap hutan sosial ini. Ia yang akan menggarapkan, saya berinvestasi membelikan peralatan, pupuk, benih, dan sebagainya. Bentuk bagi hasil yang tidak memberatkan petani dan sama-sama dinikmati hasilnya. Ia juga bertanya apakah boleh dicarikan labu yang cukup bagus dan hasilnya dibawakan ke Jakarta untuk ditawarkan ke supermarket dan minimarket, bahkan ke pasar-pasar?
 
Memang luar biasa hutan sosial ini, memberikan semangat kembali kepada petani yang sedari dulu lesu karena semakin terdesak kepentingan orang berduit yang ujungnya mengkonversi lahan pertanian sehingga semakin dan semakin sempit.
 
Yang diperlukan sekarang hanyalah dukungan. Entah dalam bentuk pupuk, bibit, peralatan, otomatisasi, dan sebagainya. Maka sambil membayangkan semua itu terwujud, sambil menyetir saya memperhatikan kembali foto sunset di Desa Cinta. Spesial sekali sunset di sini. Tampaknya karena di gunung, cahayanya jadi lebih spesial, agak pink keunguan, cocok sekali dengan nama desanya, Desa Cinta.
 
Ternyata masih ada cinta di dalam secangkir kopi. Cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: