afi.jpg
Ada pola khas tim sebelah kalau sudah mengelak dari kesalahan, yaitu lempar batu duluan dan sembunyi tangan.
Demi menutup-nutupi kesalahan ngehoax berjamaah perkara pengeroyokan Ratna Sarumpaet, mereka menyalahkan Presiden Jokowi karena sudah mengundang Afi Nihaya atau dikenal sebagai Afi saja ke istana. Alasan mereka Jokowi harus minta maaf adalah karena ikut menyebarkan kebohongan Afi.
Pendapat saya mengenai Afi akan berusaha senetral mungkin, karena saat pertama kali sosok Afi muncul, saya juga tidak terlalu suka dengan sosok ini. Hampir tidak mungkin seorang anak SMA punya pikiran sejauh dan sedalam yang ia tuliskan. Dan juga tidak saya lihat ada kekonsistenan satu tulisannya dengan yang lain. Dari awal saya sudah menebak Afi ini plagiat. Saat pertama saya ditunjukkan tulisan Afi oleh seorang teman, saya sudah komentar sepertinya itu hasil copas. Saya ditertawakan karena kemudian Afi dapat begitu besar perhatian dan penghargaan, sampai bisa ngobrol dengan seorang kepala negara. Dia pikir saya tidak pernah ngomong langsung sama Jokowi. Dan di kemudian hari tebakan saya terbukti benar
Tapi nyaris tidak ada alasan kita menyalahkan Jokowi atas kesalahan Afi.
Begini, yang dilakukan Afi bukanlah berbohong dalam arti sebenarnya. Ia memplagiat. Ia berbohong mengenai keaslian tulisan-tulisannya. Namun secara substansial tulisannya bukanlah kebohongan, walaupun akhirnya diakui bahwa itu adalah hasil menjiplak karya orang lain. Pun menjiplak, seingat saya orang yang dia jiplak tidak mempermasalahkan aksi tersebut.
Berapa kali dalam hidup kita, kita juga copy paste status FB orang lain yang kita anggap menarik? Saya yakin kalau mau jujur, kalian semua sering. Saya juga sering. Tapi jika orang menyalahpahami bahwa saya pintar menulis karena menjiplak status yang bagus dan menarik, karena saya tidak menyertakan sumber aslinya, itu bukanlah kesalahan mereka yang menganggap saya pandai menulis. Itu kesalahan saya, secara akademis. Tapi Facebook bukanlah ranah akademis. Facebook adalah media sosial yang memungkinkan informasi tersebar cepat dengan teknik Ctrl C+Ctrl V. Wuzz dalam sekejap informasi terduplikasi.Tentu saja, ini bukanlah sebuah saran utuk menyarankan aksi jiplak menjiplak karya orang lain. Yang saya maksud, penjiplakan itu mungkin tidak bisa terhindarkan di media sosial.

Kesalahan Afi dalam memplagiat tidaklah berkurang. Ia akan tercela sebagai akademis. Saat nanti ia membuat skripsi, dosennya pasti akan meragukan hasil penelitiannya, apakah benar dilakukan sendiri, ataukah merenggut paksa hasil keringat orang lain. Tapi apakah saat dia bertemu Joko Widodo ia berada dalam ranah akademis? Tidak, hanya momen pertemuan seorang kepala negara dengan rakyatnya.
Bagaimana sikap seorang Jokowi? Saya rasa sudah tepat. Setelahnya beliau dan pihak istana tidak pernah menyinggung soal Afi lagi. Afi minta maaf, dan sebagai anak muda yang masih hijau, dia sudah mendapatkan ganjaran hukuman sosial berupa bullying berminggu-minggu dan tak lagi dianggap sampai sekarang. Istana hanya tak perlu mengundang dia lagi, dan memastikan kejadian ini tidak terulang dengan benar-benar menyeleksi penulis-penulis yang hendak diundang.
Tapi di luar itu, presiden tetap punya kebebasan bertemu dengan siapapun rakyat yang dia mau. Entah itu pencopet, maling, tukang jiplak, bahkan penipu sekalipun. Tidak percaya?
Mari saya beri bukti…
Presiden SBY yang pihak sebelah agung-agungkan kepemimpinannya lebih baik dari Jokowi pun, pernah menghadapi dilema seperti Jokowi dan Afi. Dua kali malah.. Lebih serius daripada sekedar pelanggaran etis akademis malah.
Ada yang ingat Padi Supertoy? Kalau Blue Energy? Kalau tidak ingat keduanya, saya bisa paham. Zaman dulu belum ada FB, twitter, dan instagram. Tapi jejak digital seorang SBY dikibulin Con Artist seperti ini tak bisa disimpan, karena para blogger waktu itu sibuk menertawakan.
Alkisah istana dua kali kecolongan penemuan abal-abal. Ada padi hebat yang katanya bisa membuat petani makmur karena produksinya berkali-kali lipat per hektar. Lalu ia bertemu dengan penguasa, minta disponsori dan presiden mau jadi endorsernya. Maka bertebaranlah spanduk SBY memanen padi supertoy di mana-mana. Sempat tersiar kabar inovasi ini akan diterapkan ke seluruh Indonesia. Lalu penemunya diberikan kesempatan untuk mencoba dalam skala lumayan besar ke petani, sebelum nanti diadaptasi oleh pemerintah.
Nyatanya kemudian bodong. Petani yang dijadikan kelinci percobaan teriak-teriak karena tidak ada perubahan, bahkan beberapa malah berkurang produktivitasnya setelah mencoba produk yang dimaksud. Sementera benih yang katanya super unggul beserta produk turunannya seperti pupuk dan lain-lain sudah terlanjur dibeli. Amsyong.. padi ini terlanjur jadi bahan pencitraan SBY.
Kasus kedua, blue energy. Saat dulu minyak meroket hingga lebih dari US$80 per barrel, mulai ada wacana menciptakan sumber energi yang tak terbatas, alias renewable energy. Mulai dari yang sederhana dan ilmiah, seperti biodiesel, biogas, panas bumi, dan sebagainya, hingga yang nggilani seperti air disulap jadi bahan bakar.
Pada dasarnya, memisahkan air menjadi bahan bakar adalah sebuah pemborosan energi, ketimbang menghasilkan energi. Atom H dan O itu ikatannya sangat kuat. Energi untuk memisahkannya jauh lebih besar daripada energi yang dihasilkan dari pemisahan atom-atom tersebut. Maka hanya dari konsep pemisahan atom-atom air, orang yang mengerti Fisika dan Kimia akan langsung menertawakan air sebagai sumber energi.
Air bisa menjadi sumber mengefisienkan energi, seperti kasus kompor air dan motor yang dimodifikasi melibatkan air sebagai tambahan bahan bakar. Namun ia bukanlah sumber energinya. Partikel kabut air hanya disemprotkan untuk membuat ledakan api menjadi lebih kuat. Sehingga energi yang dihasilkan seolah lebih banyak. Tapi ide ini punya kelemahan, karena melibatkan air dan panas, hasilnya mesin bisa rontok karena karat.
Itulah akibat dari ide yang melawan sunatulloh, seperti yang dikatakan Anies Baswedan. Tapi itu bukanlah sebuah penipuan, hanya melawan sunatulloh saja.
Nah yang parah ini blue energy. Yang ini benar-benar sudah ditentang oleh ilmuwan dan berkali-kali diminta pemamaparannya, kok bisa air dimodifikasi jadi semacam bensin yang langsung bisa dibakar? Saya ingat pakde Rovicky yang punya blog geologi ikut menertawakan ide ini. Ya mana bisa. Andaipun benar kaidah pemisahan H dan O itu diterapkan, maka yang bisa dijadikan sumber energi itu ya hidrogen. Memangnya kita pernah lihat hidrogen cair dijadikan bahan bakar mobil? Dulu ide itu pernah menggema, dengan nama mobil hidrogen, tapi lagi-lagi karena melawan sunatulloh, ya sampai sekarang tidak diadaptasi jadi sumber utama energi mobil. Setidaknya belum, sampai manusia menemukan pemecahan selisih energi yang diciptakan dan dibutuhkan dari pemisahan atom H dan O dari air.
Lalu kok bisa seorang kepala negara yang punya begitu banyak penasihat bergelar profesor doktor dan jadi rektor di berbagai universitas, kecele dengan Joko Suprapto? Entahlah. Tapi mesin pengolah air jadi bahan bakar itu memang begitu meyakinkan sih kalau dilihat secara visual. Beberapa kali masuk berita dan diperagakan memang menghasilkan listrik (seolah-olah). Tapi di kemudian hari, terbongkar bahwa mesin itu ternyata bodong. Saat dibongkar, isinya hanyalah coran semen. Dari mana lampunya dapat listrik? Ternyata sesederhana, diam-diam lampunya dihubungkan dengan colokan listrik, yang kemudian dingelesin sebagai sumber energi awal dari PLN untuk membuat pengolahan air menjadi bahan bakar berungsi.
Saya ingin melanjutkan ke cerita ketiga, tentang Situs Gunung Padang. Ini juga dongeng sejuta umat yang sampai sekarang ga jelas juntrungannya. Tapi saya pikir-pikir janganlah… selain saya juga cape menulis, manteman juga sudah cape baca, juga nanti lama-lama kasihan SBY makin kebanting kualitasnya gara-gara kita bandingkan terus dengan Jokowi. Yang ini soalnya lebih parah karena melibatkan seorang stafsus berinisial AA yang cukup seleb,
Tapi pertanyaan kita, apakah kita pernah memperkarakan SBY jadi penyebar hoax hanya karena mengundang orang-orang tersebut ke istana? Bahkan ada yang diberikan pekerjaan jadi stafsus?
Ya tentu saja tidak… Bukan SBY yang salah kok. Tapi salah orang yang tak terbukti klaimnya secara ilmiah.
Lalu bagaimana perbandingannya dengan kasus Ratna?
Nah beda, Ratna tidak pernah berkoar-koar ke mana-mana kalau dia dipukul. Dia sudah berkali-kali menekankan kalau dia hanya ngomong privat, yang kemudian terbuka bahwa ia sudah memesankan ke Fadli Zon kalau omongannya off the record. Kalau dalam dunia jurnalistrik, off the record berarti si narasumber minta agar informasi tersebut sebisa mungkin tidak disebarluaskan, hanya tahu sama tahu saja.
Maka saat informasi tersebut dibuat menjadi konferensi pers, lalu diceritakan ke mana-mana kalau Ratna diculik dan digebuk, lalu dibuat pula drama penuh tangisan seorang Hanum Rais bahwa Ratna tersebut adalah Tjut Nya Dien masa kini. Lalu ada pula Novel Baswedan yang mengecam menteri berinisial L yang mengirimkan preman untuk menggebuk Ratna. Lalu ribuan pamflet diproduksi untuk memprovokasi. Lalu beberapa pemuda tergerak pula membuat vlog yang menyatakan ini adalah sebuah jihad untuk membela Bunda Ratna dari penjoliman… Jihad yang dimaksud di video ini tentu berarti siap berkelahi, siap bunuh-bunuhan, siap bertempur dalam perang, demi seorang Ratna.
Saat kebohongan yang sistematis dan terorganisir itu terbongkar, apakah bisa mereka semua cuci tangan merasa ditipu Ratna? Rasanya tidak.. Lah Ratna sudah berpesan untuk tidak diceritakan ke mana-mana kok.. Yang dulu nyuruh konferensi pers emang siapa?q
Apakah kehebohan ini menjadi salah Ratna Sarumpaet seorang diri? Apa pantas kasus Ratna disamakan dengan Afi Nihaya?
Hariadhi
Hariadhi.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: