Berbagai Warisan Prestasi dan Problem dari SBY ke Jokowi

Scroll down to content

foto“Itu udah dibangun sejak Zaman SBY. SBY yang dulu merencanakan dan membebaskan lahannya. Jokowi itu cuma presiden gunting pita!”

Kalimat itu paling sering saya temukan di media sosial, apalagi dari para pendukung dan simpatisan Partai Demokrat, hampir setiap kali saya bercerita kemajuan Indonesia melalui hashtag #1000kJKW. Agak menyebalkan juga memang, karena kenyataannya sedikit sekali pembangunan yang bisa dituntaskan kurang dari 1 periode kepemimpinan, sementara maksimal seorang pejabat politik sudah dibatasi dua periode.

Perdebatan antara cebong dan kampret ini termasuk alah satu debat kusir yang perlu segera kita akhiri. Adalah wajar project diwariskan dari satu presiden ke presiden lainnya. Termasuk pula di dalamnya, bukan hanya prestasi, tapi juga segudang problem yang harus dibereskan oleh pemimpin baru.

Pembangunan Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat
Pembangunan Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

 

Karena itu sebenarnya sangat wajar kalau kebanyakan proyek pembangunan di Indonesia diresmikan oleh pemimpin setelahnya. Ini bisa terjadi baik di level presiden, gubernur, bupati, hingga kepala desa sekalipun. Sangat wajar pula bila yang meresmikannya dan yang mendapat pujian adalah pemimpin yang berhasil menyelesaikannya sampai ke tahap bisa dinikmati masyarakat, bukan sekedar berangan-angan atau membebaskan lahan saja.

“Ya kalau memang itu kinerja SBY, harusnya selesaikan dong di masa pemerintahan beliau. Salah sendiri terlalu lamban sehingga projectnya yang membanggakan jadi diklaim pemimpin setelahnya,” demikian jawaban template saya kalau sudah menghadapi kecaman-kecaman lucu dan kekanakan seperti itu. Biasanya setelah dijawab seperti itu mereka diam sendiri. Entah malu apa memang kehabisan argumen, saya tidak terlalu mengerti.

screen-shot-2018-10-13-at-6-39-02-am-5bc12fb043322f4c676764e3.png

Tol Sumatera, contohnya, adalah warisan ide dari zaman SBY, atau lebih tepatnya diperjuangkan oleh Dahlan Iskan. Kalau sekedar membanggakan siapa yang punya ide, tentulah presiden sebelum SBY yang harusnya diberikan pengakuan, karena Tol Sumatera sebenarnya ide usang, yang kemudian diperjuangkan mati-matian oleh Dahlan Iskan saat menjadi menteri BUMN. Ceritanya ide tersebut tidak juga kunjung tereksekusi karena ego masing-masing provinsi yang dilewati jalur tersebut. Maka Dahlan Iskan kemudian mengumpulkan mereka semua dan para pimpinan BUMN. Lalu dibuatlah komitmen untuk saling dukung dan kerjasama antar provinsi Se Sumatera dan BUMN untuk melenyapkan rintangan membangun jalan tol.

Ingat bahwa di kemudian hari, Dahlan Iskan mendukung Jokowi. Tidak mungkin dia tidak ikhlas kalau ide yang sudah dia perjuangkan dieksekusi dengan baik pada masa pemerintahan Joko Widodo.

Sunrise di Jakabaring, Palembang
Sunrise di Jakabaring, Palembang

Pun demikian dengan perhelatan Asian Games. Kita harus secara fair berterima kasih kepada Pak SBY yang pada masa pemerintahannya mengajukan diri, sejak tahun 2012. Awalnya permintaan ini ditolak, karena Vietnam dianggap lebih representatif. Namun kemudian Vietnam mengundurkan diri pad tahun 2014 dan kita mendapat durian runtuh. Sejak tahun 2014, kita mulai bersiap untuk Asian Games. Siapa yang bekerja keras menyiapkan seluruh infrastruktur pendukungnya? Ya tentu bukan SBY lah, karena di akhir 2014 beliau sudah tidak lagi menjadi presiden, digantikan Jokowi.

Tol Pelabuhan
Tol Pelabuhan

Tol Pelabuhan di sekitar Priok juga dimulai sejak era SBY. Namun tak kunjung selesai hingga kita bosan sendiri melihatnya. “Soalnya kontraktor kita rada geblek juga. Proyeknya Jepang tapi kerjanya ga sesuai standar. Ya biasa mereka kalau salah sedikit nuntut semua diulang dari awal. Makanya ga beres-beres,” demikian alibi salah seorang rekan saya yang banyak terlibat dalam project pembangunan infrastruktur di Indonesia karena menjadi supplier BUMN kontraktornya. Saat berada di tangan Pak Jokowi, standar itu dipatuhi, sehingga dalam sekejap pekerjaan yang sudah tertunda-tunda bertahun-tahun itu bisa selesai. Lalu diresmikan tentunya oleh Jokowi. Ya iyalah, masa SBY yang mau gunting pita. Kalau Pak SBY mau ikutan dapat spotlight tentu syaratnya gampang saja, selesaikan saja pembangunannya di masa Pak SBY. Beres perkara…

Jembatan Kelok Sembilan
Jembatan Kelok Sembilan, Prestasi SBY

Demikian pula berbagai pembangunan yang telah selesai sebelum SBY turun, hingga kini dinikmati dan begitu ramai diupayakan oleh para pendukung demokrat supaya difestivalisasi. Mulai dari Kelok Sembilan, Jembatan Suramadu, perbaikan jalan lintas timur Sumatera dan pantai utara Jawa, saya dan kita semua harusnya mengakui itu adalah hasil kerja keras SBY. Walaupun sebenarnya kalau kita mau ungkit balik, Kelok Sembilan dan Jembatan Suramadu bukanlah murni dikerjakan SBY seorang, Megawati sudah memulainya lebih dulu. Namun sayangnya periode pemerintahannya sebagai presiden terlalu pendek sehingga dioper dan diselesaikan oleh SBY. Semua orang bertepuk tangan kepada SBY yang sudah meresmikan. Hampir tidak ada yang ingat kalau yang memulai sebenarnya Megawati. Cukup fair sebenarnya.

Nah cerita warisan, lucunya lagi pendukung Partai Demokrat ini rada-rada picky alias pemilih. Kalau yang bagus-bagus mereka klaim peran SBY. Tapi urusan Jokowi kebagian cuci piring membereskan masalah dan bom waktu yang diwariskan SBY, mereka belagak lupa kalau semuanya dimulai sejak masa SBY, lucu ya hehehe.

Petani di Jambi
Petani di Danau Kerinci, Jambi

Apa saja problem itu?

Saat saya berkunjung ke Sumatera bagian tengah yang rata-rata petaninya bergantung kepada sawit, keluhannya serupa. “Saya ini tambah malas dukung Jokowi, sejak masa Jokowi harga sawit turun! Kami mau makan apa…” kata seorang petani yang juga aktif menjadi haters Jokowi, menyebarkan propaganda ini di media sosial untuk mengajak orang lain untuk juga tidak memilih Jokowi, sebut saja inisialnya Y.

Lalu saya tanya balik, “Lha kan Pak Jokowi sudah usahakan banyak hal seperti bangun lebih banyak pabrik pengolahan CPO, bangun tol Sumatera juga gunanya supaya sawit dari Riau, Jambi, dan Palembang bisa diserap di Kawasan Industri baru di Sei Mangkei. Pak Jokowi juga ga segan datang ke petani untuk mendengarkan keluhan kalian, udah usaha dan mau mendengar kok masih juga dibenci?” tanya saya menyelidik.” Jawabannya cukup mengagetkan saya.

Sore hari di Kecamatan Aek Hitam, Jambi

“Alah.. giliran mau pilpres lagi, mintak dipilih lagi, baru maunya dia pura-pura dengarkan kami. Sudah terlambat itu!”

Saya agak bingung dan garuk-garuk kepala. Padahal Pakde sudah langsung mengunjungi Riau, Sumbar, Jambi, dan Sumsel di awal pemerintahannya, dan sejak tahun pertama sudah aktif melawan penyebab dropnya harga sawit kita di dunia internasional, yaitu pengelolaan sawit yang dituding tidak ramah lingkungan.

Empat Lawang, Palembang
Empat Lawang, Palembang

Justru sumber masalah anjloknya harga sawit adalah ketidakberanian SBY melawan pengusaha-pengusaha besar yang membuka lahan dengan pembakaran dalam skala besar. Tentu saja karena skalanya ratusan hingga ribuan hektar, hasilnya adalah asap yang puluhan tahun meracuni generasi muda kita, dan mempermalukan nama baik bangsa kita karena setiap tahun pula negara tetangga melancarkan protes karena dipaksa mengimpor jerebu, demikian istilah negara jiran.

Suku Anak Dalam, Penduduk Asli Jambi
Suku Anak Dalam, Penduduk Asli Jambi

“Asap itu hasil dari pembakaran oleh suku asli yang ladangnya berpindah-pindah,” atau “Pembakaran ini akibat petani kecil yang membakar tanpa kontrol, sehingga merembet ke hutan,” adalah tindakan lempar batu sembunyi tangan setiap kali bencana asap terjadi. Ya, yang disalahkan selalu penduduk asli dan petani kecil. Padahal berapa puluh hektarlah mereka bisa membakar lahan. Rasanya tak ada satupun pengusaha besar yang sempat terjerat kasus pembakaran lahan di masa Pak Mantan, silakan koreksi saya kalau salah.

harrison-ford-5bc132ed12ae9451b5649022.jpg

Lebih konyol lagi saat Menteri Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan harus menghadapi kemarahan Harrison Ford yang menyaksikan langsung bagaimana hutan digerayangi bersama dan dibakar, merusak habitat flora dan fauna asli. Ngelesnya enteng saja, bahwa ini semua adalah produk demokrasi, menyalahkan daerahlah yang memberikan begitu banyak izin. Jadi seolah pemerintah pusat tidak punya kuasa apapun untuk menghentikan semua kerusakan yang terjadi.

Hasilnya jelas, produksi sawit kita diboikot dunia internasional, lebih tepatnya oleh negara-negara Eropa. Negara Eropa ini sebenanrya permintaan CPOnya tak terlalu banyak. Namun paling berisik kalau sudah melancarkan negative campaign. Akhirnya negara-negara lain yang kalau ditotal lebih banyak nilai pembeliannya, ikut-ikutan mundur, tidak mau membeli sawit kita.

Itulah awal dari anjloknya harga sawit Indonesia. Fenomena ini sudah terjadi sejak zaman SBY. Dan SBY nyaris tak melakukan apa-apa untuk memperbaiki ataupun melawan negative campaign dari bangsa Eropa tersebut. Satu-satunya yang sempat menolong harga sawit kita adalah meroketnya harga minyak, yang lalu diikuti harga sawit juga ikut melonjak, karena menjadi bahan untuk pembuatan biodiesel, alternatif yang dianggap lebih ramah lingkungan dibanding minyak diesel konvensional dari minyak bumi.

Yang salah siapa? Oh ya tentu saja Jokowi dong… Salawi, semua salahnya Jokowi.

sekat-kanal-5bc133926ddcae7398227cc4.jpg

Langkah pertama Jokowi untuk mencuci piring SBY adalah mengunjung Meranti, Riau, untuk melihat bagaimana kearifan lokal warga di sana untuk melawan sistem monokultur sawit. Pohon sagu dipertahankan sebagai sumber pangan pokok, sehingga mau tak mau sawit akan berbaur dengan pohon sagu dan tumbuhan lainnya. Lalu juga dicanangkan sekat kanal gambut, yang seharusnya efektif saat terjadi kebakaran lahan. Fungsi sekat kanal ini ada dua, kanalnya berfungsi memblokir penjalaran api ke blok lain, dan sekat menghalangi air sehingga ikut memenuhi kanal-kanal yang tersedia. Jadi saat terjadi kebakaran, pemadam tidak sibuk mencari air ke sana ke mari.

Yang kedua adalah moratorium pengeluaran izin pembukaan lahan baru. Kita mahfum bahwa pembakaran ada karena lahan baru mesti dibuka. Dan pembukaan menggunakan alat mekanik seperti traktor dan lainnya bisa menyita modal pengusaha. Pembakaran adalah solusi yang mudah dan murah, dan menghasilkan abu dan arang yang membantu menetralisir keasaman tanah. Begitu izin pembukaan lahan baru dihentikan, maka otomatis berhenti pualah pembakaran lahan. Masuk akal bukan?

Yang ketiga, hukuman berat bagi perusahaan yang terbukti membakar lahan. Kebijakan ini memakan korban misalnya perusahaan Sago Prima di Riau yang dihukum Rp 1 Triliun, sementara manajernya kena bui 3 tahun. Lalu ada tiga perusahaan lain yang juga digampar dengan total hukuman Rp 1 Triliun juga, yaitu PT JJP di Rokan Hilir, Riau, PT WAJ di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, dan PT PU di Banjarmasin.

Total hukuman yang dijatuhkan dan denda yang didapat adalah Rp 17,82 triliun dalam kurun waktu dua tahun saja, 2015-2017. Semuanya bukan dalam bentuk kongkalingkong, tapi harus diberikan ke negara dan dalam bentuk perbaikan lingkungan yang telah mereka rusak. Coba kita jujur… sebelum Jokowi, adakah usaha memerangi dengan tegas dan keras seperti ini?

Maka saat saya berkeliling Sumatera, semua setuju bahwa atas jasa Jokowi lah problem yang diwariskan oleh SBY bisa perlahan teratasi. Minimal selama tiga tahun belakangan kita tidak lagi merasakan bencana kabut asap yang berarti.

Sunrise di Silalahi, Danau Toba
Sunrise di Silalahi, Danau Toba

Sepanjang perjalanan sebulan penuh, saya benar-benar menikmati cerahnya langit Sumatera setiap kali sunset dan sunrise, walaupun kemarau sedang panas-panasnya. Untuk berfoto mengabarkan keindahan Sumatera pun saya tidak lagi malu, karena langit yang cerah dan bebas asap memungkinkan saya membuat berbagai foto yang indah.

Ini dirasakan betul efeknya oleh orng-orang Sumatera, sampai-sampai seorang anak remaja tanggung, sebut saja namanya Yuni, yang sedang menjaga warung waktu kunjungan Jokowi ke Bagan Sinembah, Rokan Hilir, bingung sendiri saat ditanya bagaimana progres perkembangan bencana asap di Riau. Jawabannya membuat kami tertawa, “Bencana asap? Asap apa? Oooh yang sudah tiga tahun hilang itu? Udah lama ga ada,” jawabnya dengan muka polos. Tapi hilangnya kabut asap bukanlah akhir dari segala upaya kita.

musi-5bc1347643322f4c683ac935.jpg

“Tapi gimana harga karet dan sawit? Tolonglah kami Pak. Harganya tidak masuk akal lagi,” keluh seorang penimbang sekaligus petani sawit di Palembang, saat mendengar penjelasan saya di atas.

empat-lawang-5bc134e4677ffb13e14d07d3.jpg

Ya tentu tak semua problem bisa diselesaikan sekejap lalu tiba-tiba harga sawit bisa melonjak. Minimal Eropa sudah dilobby, setengah diancam, bahwa kalau masih saja meneruskan boikot sawit, maka kita juga bisa memboikot produk imporan dari mereka. Kita juga sudah meyakinkan bahwa pengelolaan sawit di Indonesia sudah ramah lingkungan.

Sunrise di Pelabuhan Merak
Sunrise di Pelabuhan Merak

Hasilnya, berkat lobby gigih Indonesia, sejak 14 Desember 2015, lima negara Eropa setuju membina dan memesan sawit yang sustainable dari Indonesia. Selain itu, ancaman pembatasan sawit untuk biofuel pada akhir Juni 2018 ditunda setidaknya hingga 2030. Sehingga sawit Indonesia tidak lagi dalam posisi terancam. Bahkan delegasi Eropa memuji pengelolaan sawit Indonesia sangat ramah lingkungan saat berkunjung dan mengamati kebun sawit kita pada 16 April 2018.

“Ini pertama kalinya saya datang ke perkebunan sawit. Sangat menarik sekali dan perusahaan ini paling terdepan dalam tata kelola sawit berkelanjutan,” jelas Johanna Brismar-Skoog Duta Besar Swedia Untuk Indonesia, dalam kunjungan ke Tungkal Ulu, Jambi yang saya kutip dari situs sawitindonesia.com. Ini didukung pula oleh pernyataan Duta Besar Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend.

“Pengalaman panjang membantu praktik yang baik, lalu ada optimalisasi proses yang bagus untuk bisnis, manajemen yang bagus. Tentu saja ini informasi yang luar biasa,” ungkapnya.

danau-limbungan-5bc134e5c112fe158d51fbe3.jpg

Lalu bagaimana dengan nasib harga sawit? Pembangunan Tol Sumatera, Tol Laut Pelabuhan Offshore Kuala Tanjung, dan Kawasan Industri Sei Mangkei yang saat ini sudah selesai dibangunkan pabrik pengolahan CPO lanjutan oleh PTPN III adalah penjelasan Pakde Jokowi waktu saya todong langsung saat bertemu di Bagan Sinembah. Dengan demikian kita bisa bermimpi, komoditas yang pada masa SBY cuma dijual mentah, kini bisa keluar dalam bentuk sabun, deterjen, margarin, dan oleochemical yang kemudian langsung diekspor ke banyak negara tanpa harus melewati Singapura lagi.

Problemnya, perbaikan-perbaikan ini tidak bisa serta merta membuat harga sawit melonjak lalu petani sawit bahagia. Masih butuh waktu untuk memperbaiki citra sawit Indonesia di dunia internasional. Drop harga sawit tercipta akibat ketidaktegasan dan ketidakberanian SBY selama bertahun-tahun. Maka mengatasinya tentu tida bisa selesai dan terlihat efeknya dalam semalam saja.

Sunset di Pulau Sabang, Aceh
Sunset di Pulau Sabang, Aceh

Emangnya Jokowi Sangkuriang,” kata teman relawan saya mendengar kelih kesah saya soal nasib Pak Jokowi yang selalu saja disalahkan akibat warisan masalah dari SBY yang menggunung.

Itulah kenapa saya lebih menyarankan untuk kita memesan kopi saja dari petani. Selain membantu mereka mendapatkan harga yang lebih fair dan cukup menghargai jerih payah mereka, juga berhubungan dengan problem lingkungan.

Sunset di Perkebunan Kopi di Desa Cinta
Sunset di Perkebunan Kopi di Desa Cinta

Berbeda dengan sawit, kopi bukanlah tumbuhan monokultur. Ia harus hidup dengan naungan pohon lain, dan biasanya memang ditanam bersamaan dengan tumbuhan lain. Sehingga menolong petani kopi dengan membeli produknya sebenarnya sama saja dengan mendorong mereka untuk lebih giat lagi menanam dengan cara heterokultur. Jadi kita bisa saja ambil bagian dan membantu melegakan penderitaan mereka, sementara Pak Jokowi terus berupaya mendorong permintaan dan harga kelapa sawit.

Semoga ini semua bisa dipahami oleh teman-teman semuanya, bagaimana rumitnya masalah pertanian di Sumatera. Tidak segampang membalik telapak tangan lalu masalah mereka langsung selesai.

binjai-5bc134ac677ffb16d3497fc3.jpg

Semua butuh proses dan partisipasi kita… Amin… Sambil terus menikmati mulusnya Tol Medan-Binjai, saya terus berharap kita bisa berhenti bertengkar soal siapa yang sebenarnya membangun apa, dan menyadari bahwa problem bangsa ini ada untuk kita pecahkan bersama, bukan sibuk salah-salahan…

impor-mentah-5bc136f8aeebe12f956e2962.jpg

 

izin-buka-lahan-5bc136be6ddcae7399097804.jpg
 tol2-5bc136de6ddcae7200658904.jpguka-lahan-5bc136be6ddcae7399097804.jpg
tol2-5bc136de6ddcae7200658904.jpg
mobil-terbang-5bc1369a12ae945f105b14e4.jpg

*) Tulisan ini bisa dibaca juga di kompasiana.com dan seword.com, bagian dari perjalanan #1000kmJKW
**) Dialog-dialog yang ada di sini disamarkan namanya dan diubah kalimatnya untuk kenyamanan narasumber dan kenyamanan baca.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: