Janji 10 Juta Tenaga Kerja Jelas Akan Tercapai, Lalu Apa? #PengangguranBerkurang

Scroll down to content

Hari ini saya kembali diundang ke event FMB. Namun tidak seperti tradisi, kali ini bukan diadakan di Kementerian Komunikasi dan Informatika, namun di Kementerian PPN/BAppenas, yang terletak di Jalan Taman Suropati, tepatnya di sebelah Masjid Sunda Kelapa.

Sesuai dengan janji Jokowi, saat ini Indonesia sejak 2014 sudah membuka sekitara 2,5 juta lapangan kerja tiap tahunnya, sehingga di akhir tahun ini diperkirakan target dan janji tersebut akan tercapai dengan mudah, jauh sebelum Pilpres dimulai.

Dalam pertemuan ini, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri memaparkan bahwa selain membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya, masih ada PR bagi pemerintah untuk juga mengembangkan tenaga kerja melalui pelatihan. Ia menerangkan bahwa kalau soal kualitas individu saja, Indonesia langganan juara di kompetisi internasional. Namun saat bicara industri, maka yang dibutuhkan adalah skill dan prestasi itu merata di seluruh tenaga kerja. Nah di sinilah kekurangan Indonesia. Semangat dan skill sang juara itu kurang terduplikasi. Kalaupun terduplikasi, jumalhnya belum cukup banyak.

Untuk itu, Indonesia melakukan pengembangan skilling bagi tenaga kerja, yaitu 1. skilling, 2. upskilling, dan re-skilling.

Menteri Pendidikan Dasar, Muhajir Effendi mengingatkan bahwa tidak boleh sekedar menyediakan lapangan pekerjaan saja. Ia menyatakan tidak suka bila tenaga kerja tersebut tidak dalam bentuk posisi-posisi yang berkualitas, yang membutuhkan pekerjanya memiliki pendidikan dan skill khusus. Jadi jangan langsung senang kalau tersedia begitu banyak sekali lapangan kerja dengan kualifikasi SD atau SMP saja. Itu sama sekali tidak mendidik dan tidak membuka kemungkinan berkembang bagi rakyat kita. Karena itu, harus pendidikan dan pelatihan harus terus digalakkan.

Menurut Kepala Bappenas, membaca angka pengangguran dari bulan ke bulan harus hati-hati. Ia memperingatkan angka pengangguran bisa naik temporal jika ada panen dan pasca panen. Karena itu ia menyarankan melihat angka bulan Agustus, setelah panen selesai, lalu membandingkan dari tahun ke tahun di bulan yang sama. Pada tahun 2015 yang merupakan akhir commodity booming, pengangguran sempat meningkat, namun dengan penggenjotan pembangunan infrastruktur, pengangguran kembali menurun dan tercipta lapangan kerja sekitar 2-3 juta lapangan kerja baru setiap tahunnya. Dan untuk 2018 saja, sudah hampir tercapai 2,99 juta lapangan kerja baru. Jika dihitung, angka ini sudah mencapai total sekitar 9,4 juta lapangan kerja, sehingga masih ada 600 ribu lapangan kerja lagi agar target nawacita bisa tercapai.

Ada beberapa daerah yang masih banyak menyerap tenaga kerja, yaitu Banten dan Jawa Barat yang banyak memiliki industri manufaktur. Akibatnya Jawa Barat dan Banten menjadi magnet yang menarik pekerja dari daerah lain. Sayangnya banyak di antaranya yang belum punya skill memadai. Akibatnya mereka jadi menganggur dan seolah banyak sekali pengangguran di sana.

Lalu kenapa Jawa Tengah dan Timur pengangguran terbukanya terlihat menurun? Karena mulai dibukanya industri dan lapangan kerja baru di tempat tersebut. Untuk data Maluku, sektor perikanan dan pertanian lebih mendominasi sehingga pengangguran di desa terlihat lebih kecil daripad kotanya.

Untuk itu, Menteri PPN/Bappenas mengingatkan kepada Kepala Daerah untuk berhati-hati membaca data pengangguran dan menyesuaikan dengan potensi di daerahnya.

Menteri Bambang Brodjonegoro juga menyarankan agar SMK dimaksimalkan potensinya dengan cara memperkenalkan  keahlian yang secara praktis memang kebutuhannya besar, seperti pariwisata dll.

Kita juga harus memperhatikan orang-orang yang setengah menganggur, yaitu jam kerjanya masih di bawah normal sehingga produkstivitasnya tidak termanfaatkan maksimal. Pengangguran seperti ini banyak sekali di pedesaan, biasanya petani.

 

Advertisements
%d bloggers like this: