Inilah Gunanya Infrastruktur, Justru Biar Tak Perlu Makan Semen dan Aspal

Scroll down to content

 

tsunami1.jpgTidak seperti biasanya, yang saya bahas dalam serial #1000kmJKW kali ini bukanlah infrastruktur yang dibuat Jokowi. Agar yang membaca tidak merasa teriritasi saat saya ceritakan pentingnya pembangunan. Biarlah Astra Infra saja yang mendapat nama atas pembangunan tol Tangerang-Merak.

“Duduk saja dulu di situ, Mas. Bersih kok. Saya bereskan dulu warungnya.” Kata Kang Sueb, bukan nama sebenarnya. Ia terlihat sibuk dan riang sekali menyabut pagi, tak menggambarkan dirinya seorang warga Anyer yang terdampak tsunami.

Di dalam warung saya melongok, anak-anak Bang Sueb asik menikmati sarapan, tak kelihatan kelaparan. Badan mereka tak terlihat kurus kering layaknya korban gempa Lombok saat saya pertama datang.

“Tsunaminya cuma sedikit genangan saja sampai ke sini karena tidak terlalu tinggi. Hanya saja yang panik belum berani kembali. Ngungsi di bukit-bukit sana,” Tutur Kang Sueb. “Tapi yang beli ada?” Saya bertanya. “Ya ada lah sedikit, pasti setidaknya relawan yang membantu ada satu atau dua makan di sini,” Dia bercerita dengan senyum optimis. Dan memang benar, beberapa anggota TNI dan relawan terlihat singgah di warung itu. Maklum baru Kang Sueb yang berani membersihkan warungnya dan buka kembali.

“Tsunaminya sebenarnya relatif kecil, cuma di pantai sana, tunjuknya ke arah tanah di seberang jalan dari warung tersebut. “Kalau yang ada pohon atau pagar penghalang, airnya cuma muncrat ke jalan.”

Saya perhatikan sebenarnya memang sebagian besar bangunan di sini masih utuh. Hanya pondok-pondok yang terbuat dari kayu dan bambu saja yang banyak rubuh. Itu pun cepat dibereskan lagi oleh warga pemiliknya, dibantu alat berat dari pemerintah, TNI, dan beberapa relawan. Yang mempersulit upaya ini hanyalah hujan lebat yang tidak berhenti sejak malam hingga siang hari. Beberapa saluran air tersumbat sehingga menggenangi jalan, membatasi mobilitas alat dan kendaraan.

tsunami 7.jpg

“Sebenarnya Anyer ini sudah lama agak sepi. Tapi karena musim liburan, kebetulan malam itu pengunjungnya ramai, apalagi yang di Tanjung Lesung,” Saya berkerinyit karena merasa pernah dengar di berita tapi entah untuk kabar apa. “Itu lho, yang konser band itu. Seventeen. Manggungnya di Tanjung Lesung,” Jawabnya melengkapi.

“Ga ada terasa gempa?” Saya menyelidik. “Mboh, tiba-tiba saja air menggulung dan terseret semua ke laut. Dan Tanjung Lesung itu tanjung, posisinya menjorok ke laut, habislah semua terseret.”

Saya tak sempat menuruti sarannya Kang Sueb ke Tanjung Lesung karena sudah mengantuk sekali. Sehabis sarapan, saya beranjak ke mobil dan tidur. Tak sampai setengah jam, pintu kaca diketuk-ketuk. Bang Sueb membangunkan saya dengan muka cemas.

tsunami 4.jpg

“Cepat naik ke atas, ada kabar air akan menggulung lagi. Warga lain juga akan mengungsi!” Saya bingung. Cek di akun BNPB, PMI, BMKG, bahkan lihat di akun Pak Sutopo BNPB, nihil…

“Siapa yang kasih tahu, Kang?”

“Sudah beredar di WA dan SMS. Semua termasuk relawan diminta menjauh dari pantai, naik ke tempat yang tinggi!” Lalu saya cek beberapa group relawan dan keluarga. Betul ada yang meneruskan pesan berantai yang memerintahkan semua relawan mengosongkan wilayah pantai di Anyer. Di bawahnya ada “Analisa” bahwa tsunami pada tanggal 22 Desember lalu hanya “pemanasan”. Masih ada runtuhan baru di anak Gunung Krakatau yang akan menyebabkan tsunami beberapa jam lagi.

“Duh ini pasti kerjaan penjahat lagi bikin isu yang menakut-nakuti warga.” Tapi apa boleh buat, saya juga mau tak mau ikut mengungsikan diri, walaupun yakin ini pasti kerjaan orang iseng, kalau tak mau dibilang jahat, menciptakan analisa-analisaan yang selalu saja mengganggu warga saat terjadi bencana.

Di sepanjang jalan saya perhatikan banyak orang berlarian dan motor dipersiapkan untuk mengungsi. Padahal beda dengan kejadian sebelumnya, peringatan iseng itu keluar siang hari. Manusia bisa lebih jelas mengawasi daerah laut. Kalau ada air tiba-tiba surut lalu diikuti gelombang besar terlihat dari kejauhan, sebenarnya bisa dengan mudah diamati tanda waktu tsunami beberapa saat sebelum menerjang. Tapi apa boleh buat, kabar burung selalu sukses mendahului dan menakut-nakuti warga.

Sambil jalan perlahan, mendokumentasikan kerusakan akibat tsunami, saya perhatikan posko bantuan sudah dipenuhi bantuan. Prajurit TNI, dari truknya saya baca dari Kopassus, sibuk mengangkut satu per satu secara estafet. Semua sibuk. Setiap beberapa menit sekali suara ambulan dan mobil jenazah bolak balik melewati jalan, maka saya menepi memberikan mereka prioritas jalan.

Akhirnya di tempat yang lebih tinggi, saya beristirahat dan makan siang di rumah makan padang. Relawan, wartawan, dan aparat ikut berkumpul di sana. Beberapa sibuk mengirimkan berita. Ada juga yang mengedit video dan fotonya dari laptop masing-masing.

Salut rasanya melihat kesigapan semua pihak. Namun yang lebih perlu digaris bawahi, adalah bagaimana hampir seluruh penjuru yang terkena tsunami, bisa diakses dengan mudah oleh bantuan. Tak terlihat ada warga yang mencegat bantuan karena kelaparan. Semua lancar.

 

Ini berkat infrastruktur yang terbangun baik. Saya perhatikan setidaknya hingga sampai Pantai Carita, Anyer, seluruh jalan dibeton dengan lebar sekira tiga mobil. Sehingga truk bantuan, alat berat, ambulans, mobil jenazah, dan aparat keamanan bisa dengan mudah bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Dibandingkan dengan Lombok yang akses jalannya jauh lebih sulit, penanganan tsunami Anyer jauh lebih efisien dan cepat.

Inilah bukti bahwa infrastruktur sangat kita butuhkan, setidaknya akan sangat terbukti saat bencana terjadi. Tak ada warga yang harus mengais makanan dari puing-puing. Tidak ada anak-anak yang harus makan seadanya. Tidak ada ungkapan “Kami ga makan semen dan aspal.”

tsunami 2.jpg

Tulisan saya ini, walaupun merupakan bagian dari perjalanan #1000kmJKW, bukanlah berisi puja-puji kinerja Jokowi. Karena toh tol dari Tangerang ke Merak dibangun bukan oleh pemerintah, namun oleh Astra Infra, atau lebih tepatnya PT Marga Mandalasakti pada tahun 1989. Sama sekali bukan oleh Jokowi, namun sangat membantu pemerintah dan para relawan saat harus menyalurkan bantuan.

Bayangkan jika truk-truk besar berisi bantuan dan alat berat harus melewati jalanan rusak di tengah perkampungan warga. Mungkin baru berminggu-minggu setelahnya barulah kita melihat muka lega warga. Ternyata justru dengan membangun infrastrukturlah, maka kita terhindar dari keharusan makan semen dan aspal!

Lagipula di artikel saya tidak hendak memuji Jokowi, namun justru ingin mengkritik bagaimana upaya penanggulangan bencana kita baru sebatas jadi pemadam kebakaran saat bencana terjadi. Masih kurang sekali upaya mitigasidan edukasi.

Contohnya saja pembangunan pondok dari kayu di sepanjang pantai. Inilah yang menyebabkan banyak sekali bangunan rubuh dan menimpa warga. Setidaknya akan bercampur dengan air dan menghantam siapa saja yang terseret oleh arus.

Padahal sejatinya beberapa meter dari bibir pantai, harusnya tidak boleh ada bangunan. Ini biasa disebut sebagai garis sempadan. Inilah yang tidak saya lihat ada di sekitar pantai di Anyer. Hotel, saung tempat makan, panggung, banyak sekali yang dibangun menempel ke laut dengan alasan mendapatkan view terbaik. Padahal ini jelas membahayakan turis pengunjung. Siapapun yang menerbitkan izin mendirikan bangunan di tepi pantai, harusnya diseret hukum pidana karena sudah terbukti membuat nyawa warga melayang.

Selain itu pohon sudah sangat jarang terlihat. Yang ada adalah deretan pantai berpasir. Padahal di beberapa titik yang pohonnya masih tumbuh kokoh dan subur, saya lihat bangunan di sekitarnya pun tidak terganggu. Jadi jelas bagaimana fungsi pohon dalam memecah gelombang tsunami.

Kalaupun tidak bisa mengembalikan lingkungan, sudah seharusnya pantai yang terlihat landai ini dibangunkan pengganti berupa dinding tebal agar saat nanti tsunami yang lebih besar terjadi, tidak ada lagi korban nyawa sia-sia.

Krakatau pernah memberikan peringatan kepada kita pada tahun 1883. Serupa dengan kejadian di Anyer namun dalam skala lebih dahsyat, Gunung ini meletus dan menyebabkan ratusan nyawa melayang. Abunya sampai ke Eropa dan menyebabkan musim dingin panjang selama beberapa tahun.

Alam dan sejarah memberikan peringatan kepada kita bahwa eksploitasi berlebihan bisa berbalik mendatangkan bencana kepada diri kita sendiri. Inilah yang patut disayangkan. Sudah tahu pantainya menghadap ke salah satu gunung yang pernah menyebabkan kehancuran besar, kok malah dibabat hutannya dan dibangun dengan serampangan.

Peringatan yang muncul di akhir periode pertama pemerintahan Pak Jokowi ini mungkin sudah terlanjur terjadi tanpa bisa kita tolak. Namun saya rasa bisa dan sangat perlu diperbaiki pada periode kedua. Ongkosnya saya yakin tidak semahal menganggarkan pembelian alat deteksi tsunami baru.

 

Pantai-pantai di Anyer seharusnya dikembalikan kepada bentuk aslinya yang dipenuhi pepohonan, ditembok tebal, dan dibuatkan pemecah gelombang. Sementara tempat wisata bisa dibangunkan di seberang jalan yang posisinya menjauh dari bibir pantai. Dan tak lupa, dibuatkan jalur evakuasi serta bangunan tinggi tempat berlindung. Maklum, di Anyer ini cenderung seragam, pantai landai dan ketinggiannya cukup rendah dibanding permukaan air laut. Sehingga untuk warga bisa melarikan diri ke tempat tinggi, butuh lari berkilo-kilometer.

Melarikan diri bagi mereka jelas sebuah siksaan, tidak seperti Lombok Utara yang pantainya dekat dengan bukit. Apalagi ditambahi dengan pesan berantai dan hoax yang tak henti memprovokasi warga untuk terus-terusan mengungsi tiap beberapa jam sekali.

Harus diakui, untuk pencegahan dan mitigasi, kita masih lemah sekali. Beberapa kali terjadi bencana di beberapa tempat, yang diributkan hanyalah pengumpulan sumbangan. Padahal andai mitigasi bencana digalakkan, mungkin bisa menekan kerugian yang terjadi. Ini perlu diperbaiki oleh Jokowi seandainya melanjutkan di periode kedua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: